“Hidup di perantauan tentu tidak lepas dari berbagai ujian. Karena itu, warga Minang harus tangguh secara iman dan sosial, sesuai dengan filosofi hidup kami: adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah,” imbuh Arman Anwar.
Kegiatan qurban IKM Ambon ini juga melibatkan pembagian kupon kepada masyarakat sekitar. Kupon tersebut ditukarkan dengan paket daging qurban seberat dua kilogram yang telah dikemas rapi dalam kantong plastik.
Salah satu warga penerima daging qurban, Fadli, menyampaikan rasa terima kasih dan haru atas kepedulian yang ditunjukkan oleh warga Minang.
“Kami walaupun bukan orang Minang, tapi setiap tahun selalu mendapat kupon qurban dari panitia. Dagingnya bisa kami masak dan nikmati sekeluarga. Semoga orang Minang di Ambon selalu diberi rejeki dan bisa terus melakukan ini tiap tahun,” ujar Fadli.
Atmosfer kegiatan berlangsung penuh keakraban. Ratusan warga dari berbagai latar belakang hadir dan turut menyaksikan penyembelihan hewan qurban. Semangat gotong royong dan kebersamaan sangat terasa di lokasi kegiatan.
Secara administratif, kegiatan qurban ini mendapat dukungan penuh dari tokoh-tokoh masyarakat Minang di Maluku serta berbagai unsur pemerintah setempat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi komunitas diaspora dalam membangun keharmonisan sosial.
Melalui kegiatan ini, IKM Ambon membuktikan peran strategisnya tidak hanya sebagai organisasi kultural, tetapi juga sebagai motor penggerak kegiatan sosial-keagamaan yang berdampak langsung pada masyarakat.
Berqurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan cerminan nilai-nilai luhur yang membentuk karakter umat yang peduli dan bertanggung jawab terhadap sesama.
Kegiatan ini pun diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi organisasi lain untuk mengembangkan program-program sosial yang berkelanjutan dan inklusif, terlebih dalam konteks kemajemukan masyarakat Ambon.
Dengan jumlah 12 ekor sapi yang dikurbankan dan distribusi daging yang tepat sasaran, kegiatan ini dinilai sukses besar dan menjadi bentuk nyata kontribusi warga Minang bagi Kota Ambon yang mereka cintai. (BM31)




