Tel Aviv,
| Ketegangan politik antara elite Israel dan Amerika Serikat memuncak menyusul munculnya tudingan anonim terhadap Kepala Mossad David Barnea terkait kegagalan mendorong perubahan rezim di Iran. Isu ini mencuat dalam beberapa hari terakhir melalui laporan media internasional, yang menyebut adanya tekanan politik terhadap badan intelijen Israel di tengah ekspektasi tinggi dari pemerintahan Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump. Peristiwa ini terjadi dalam konteks konflik geopolitik yang terus berkembang, khususnya sejak awal 2026, dengan fokus utama pada pertanyaan krusial: mengapa upaya menggulingkan rezim Iran belum menunjukkan hasil nyata?
Laporan investigatif dari sejumlah media, termasuk The Jerusalem Post dan The New York Times, mengungkap adanya serangan tidak langsung dari sumber anonim terhadap Barnea. Ia dituduh memberikan gambaran terlalu optimistis mengenai kemungkinan perubahan rezim di Iran, baik kepada pemerintah Israel maupun pejabat AS. Namun, informasi yang diperoleh menunjukkan bahwa posisi Barnea jauh lebih kompleks dan penuh kehati-hatian dibandingkan narasi yang beredar.
Secara kronologis, tudingan ini berawal dari laporan program investigasi Channel 12 “Uvda” yang menyebut bahwa menjelang konflik, Barnea mempresentasikan skenario kemungkinan jatuhnya rezim Iran. Namun, laporan tersebut juga mengakui adanya sejumlah syarat dan keraguan yang disampaikan Barnea, termasuk faktor waktu dan dinamika situasi di lapangan.
Dalam laporan lain, disebutkan bahwa Barnea bahkan menyampaikan kepada pihak AS bahwa dalam beberapa hari sejak konflik dimulai, oposisi Iran dapat dimobilisasi untuk memicu kerusuhan yang berpotensi menggoyahkan pemerintahan. Namun, narasi tersebut kemudian dipersepsikan secara berlebihan oleh aktor politik, sehingga menciptakan ekspektasi yang tidak realistis.
“Prediksi intelijen selalu disampaikan dengan berbagai kualifikasi dan tidak pernah menjanjikan perubahan drastis dalam waktu singkat,” kata seorang sumber intelijen yang memahami langsung pendekatan Mossad.
Sumber tersebut menegaskan bahwa Barnea dikenal sebagai figur yang berhati-hati dalam menyusun analisis strategis, serta tidak pernah mendorong kebijakan agresif di luar arahan politik pemerintah. Bahkan dalam beberapa kesempatan, ia dilaporkan menolak usulan operasi tertentu karena dinilai tidak realistis.
“Setiap presentasi kepada pemerintah AS maupun Israel dilakukan dalam kerangka kebijakan yang dikendalikan penuh oleh Perdana Menteri, bukan inisiatif independen Mossad,” kata sumber tersebut.
Analisis situasional menunjukkan bahwa tudingan terhadap Mossad tidak dapat dilepaskan dari tekanan politik yang dihadapi oleh Netanyahu dan Trump. Kedua pihak dilaporkan terus mendapat pertanyaan publik mengenai lambannya proses menuju perubahan rezim di Iran, meskipun konflik telah berlangsung.
Dalam konteks ini, muncul dugaan bahwa kebocoran informasi kepada media merupakan upaya untuk mengalihkan tanggung jawab atas kegagalan tersebut. Beberapa sumber bahkan menyebut kemungkinan keterlibatan lingkaran dalam pemerintahan Israel maupun militer dalam menyebarkan narasi tersebut.
Di sisi lain, tidak ditemukan bukti kuat bahwa Mossad memiliki pandangan berbeda dengan militer Israel. Secara resmi, pendekatan yang diambil tetap konsisten: kekuatan militer hanya dapat menciptakan kondisi awal, sementara perubahan rezim merupakan proses jangka panjang yang bergantung pada dinamika internal Iran.
Latar belakang strategi ini dapat ditelusuri sejak masa pemerintahan Naftali Bennett, di mana Mossad mengembangkan pendekatan “death by a thousand cuts” untuk melemahkan rezim Iran secara bertahap melalui tekanan non-militer. Strategi ini terinspirasi dari pendekatan Amerika Serikat dalam menghadapi Uni Soviet selama Perang Dingin.
Namun, dinamika di lapangan menunjukkan kompleksitas yang jauh lebih besar. Gelombang protes di Iran, yang dipicu oleh krisis ekonomi, kenaikan harga bahan bakar, dan kelangkaan air, belum mampu menghasilkan perubahan politik signifikan. Bahkan, laporan menyebut ribuan demonstran menjadi korban dalam aksi penindasan tanpa intervensi langsung dari pihak luar.
Selain itu, sejumlah rencana seperti dukungan terhadap milisi Kurdi Iran di Irak utara juga tidak mendapat dukungan penuh dari pihak AS. Hal ini semakin mempertegas keterbatasan opsi strategis yang tersedia.
Hingga laporan ini diturunkan, baik kantor Perdana Menteri Israel maupun Mossad belum memberikan tanggapan resmi atas tudingan yang beredar. Namun, fakta-fakta yang ada menunjukkan bahwa polemik ini lebih mencerminkan pertarungan narasi politik dibandingkan kegagalan tunggal institusi intelijen. (BM31)







