BM31News
BM31News
BM31News
BM31News BM31News BM31News

Ayatollah Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Media Pemerintah Iran Konfirmasi

Serangan militer gabungan AS dan Israel di Teheran diklaim menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan memicu ketegangan geopolitik baru.

Teheran, | Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menyasar kompleks kediamannya di Teheran pada Sabtu (waktu setempat). Media pemerintah Iran pada Minggu mengonfirmasi kematian Khamenei bersama sejumlah anggota keluarganya. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan melalui media sosial bahwa ia meyakini Khamenei tewas dalam serangan tersebut. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut terdapat “indikasi yang berkembang” terkait kematian pemimpin tertinggi Iran tersebut.

Berdasarkan laporan media pemerintah Iran yang dikutip The Jerusalem Post, serangan udara gabungan AS-Israel menghantam kompleks Khamenei di Teheran. Selain Khamenei, putrinya, cucunya, menantu perempuan, serta menantu laki-lakinya juga dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Dokumentasi jenazah Khamenei disebut telah diperlihatkan kepada Netanyahu, meski belum ada rincian teknis mengenai waktu dan metode identifikasi yang disampaikan ke publik.

BM31News
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Sabtu malam, Netanyahu menyatakan adanya indikasi kuat bahwa target utama serangan telah tewas, namun tidak memaparkan bukti rinci kepada publik.

“Dalam beberapa jam terakhir, terdapat indikasi yang berkembang bahwa Khamenei telah terbunuh,” kata Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump melalui unggahan di media sosial menyampaikan keyakinannya atas kematian Khamenei, memperkuat spekulasi internasional mengenai hasil serangan tersebut.

Media pemerintah Iran mengonfirmasi kabar tersebut sehari setelah serangan terjadi. Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari otoritas Iran terkait mekanisme suksesi kepemimpinan tertinggi negara tersebut.

Khamenei, yang berusia 86 tahun, memimpin Republik Islam Iran sejak 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini, pemimpin Revolusi Islam 1979. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Presiden Iran periode 1981-1989. Sepanjang masa kepemimpinannya, Khamenei menjadi figur sentral dalam struktur politik dan militer Iran, dengan kewenangan luas atas kebijakan strategis negara, termasuk angkatan bersenjata dan Garda Revolusi.

Serangan terbaru ini bukan kali pertama Khamenei menjadi target pembunuhan. Pada 27 Juni 1981, sebuah bom meledak saat ia berpidato di sebuah masjid di Teheran, menyebabkan lengan kanannya lumpuh permanen. Sejak Revolusi Islam 1979, ia beberapa kali dilaporkan menjadi sasaran upaya pembunuhan.

Di luar Iran, reaksi keras muncul dari tokoh oposisi yang berada di pengasingan, Reza Pahlavi. Dalam pernyataannya di platform X, Pahlavi menyambut kematian Khamenei sebagai akhir dari era Republik Islam.

“Ali Khamenei, si haus darah di zaman kita, pembunuh puluhan ribu putra terbaik Iran, telah dihapus dari lembar sejarah. Dengan kematiannya, Republik Islam secara efektif telah mencapai akhirnya,” kata Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi.

Ia juga menyerukan warga Iran untuk tetap waspada dan bersiap menghadapi fase transisi politik yang dinilai akan segera terjadi.

Secara situasional, kematian Khamenei berpotensi memicu ketidakstabilan politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah. Struktur kepemimpinan Iran menempatkan Pemimpin Tertinggi sebagai otoritas tertinggi di atas presiden dan parlemen. Dengan wafatnya figur sentral tersebut dalam konteks serangan militer asing, risiko eskalasi konflik regional dinilai meningkat, khususnya jika Iran merespons dengan tindakan balasan terhadap kepentingan AS maupun Israel.

Khamenei lahir di Mashhad pada April 1939 dan mulai meniti jalur keulamaan di Qom pada 1958. Ia memiliki enam anak. Salah satu putranya, Mojtaba Khamenei, dalam beberapa tahun terakhir kerap disebut-sebut sebagai kandidat potensial penerus posisi Pemimpin Tertinggi, meski mekanisme resmi suksesi berada di tangan Majelis Ahli Iran.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari otoritas pertahanan AS maupun Israel yang memaparkan detail operasional serangan. Situasi di Teheran dilaporkan berada dalam pengawasan ketat aparat keamanan, sementara komunitas internasional menanti kejelasan lebih lanjut mengenai dampak geopolitik pasca-tewasnya figur paling berpengaruh dalam struktur Republik Islam Iran tersebut. (BM31)


Dapatkan berita terbaru dari BM31News.com langsung di ponsel Anda! Klik untuk bergabung di Channel WhatsApp dan Telegram kami sekarang juga.