Dalam prosesi wisuda tersebut, tiga lulusan terbaik diumumkan berdasarkan Surat Keputusan Direktur UT Ambon. Alfiyadi Nur (Program Studi Manajemen, Maluku Tengah) dinobatkan sebagai lulusan terbaik pertama, disusul Frans Tepal (Ilmu Hukum, Seram Bagian Barat), dan Epi Waras (Ilmu Hukum, Maluku Barat Daya).
Mereka menerima penghargaan khusus dari mitra perbankan UT, yakni Bank BTN, Bank Mandiri, BRI, dan BSI.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan pemanggilan para wisudawan satu per satu untuk berjabat tangan secara simbolis dengan pimpinan UT dan pejabat pemerintah. Momen ini menjadi puncak kebanggaan para lulusan yang telah berhasil melewati berbagai tantangan untuk meraih gelar akademik.
Suasana haru turut mewarnai aula wisuda, ketika para keluarga dan pendamping menyaksikan langsung keberhasilan orang terkasih. Setelah itu, pembacaan doa yang dipimpin oleh Rahman Hasim menjadi penutup spiritual dari seluruh prosesi.
Sesi foto bersama pun digelar dengan melibatkan pimpinan UT, perwakilan pemerintah, perbankan, mitra kampus seperti Universitas Pattimura, IAIN Ambon, IAKN Ambon, Politeknik Negeri Ambon, serta perwakilan PT POS Indonesia dan Sentra Layanan UT (SALUT) Namrole dan Kei.
Kejutan menarik terjadi di akhir acara ketika Direktur UT Ambon memberikan penghargaan kepada wisudawan dengan kisah inspiratif, termasuk tiga pasangan suami-istri dan beberapa saudara kandung yang lulus bersama. Di antara mereka adalah pasangan Costavina Rumlawang & Erick Simon Kailola serta saudara kandung Wahyu & Amsal Pattipeilohy.
“Kisah mereka menunjukkan bahwa pendidikan bisa diraih bersama, saling mendukung dalam keluarga adalah kekuatan besar,” kata Yuli El Anshori.
Tak hanya itu, para dokter yang juga wisudawan turut diundang ke panggung untuk berbagi testimoni pengalaman belajar mereka di UT. Nama-nama seperti Hasni Arusad, Rodrigo Limmon, dan Novy Riyanti menyampaikan bahwa fleksibilitas sistem UT memungkinkan mereka tetap menjalankan tugas medis di daerah terpencil sembari menyelesaikan studi.
“Saya bisa tetap bertugas di puskesmas terpencil sekaligus menyelesaikan pendidikan S1 saya dengan sistem UT yang fleksibel dan adaptif,” ujar dokter Alwia Djamalilleil.
Kegiatan Wisuda Daerah 2025 ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga representasi dari tekad UT untuk terus menjangkau masyarakat kepulauan, memperkuat keadilan akses pendidikan, serta mengukuhkan diri sebagai perguruan tinggi terbuka kelas dunia yang terus berkembang. (BM31)







