Menyadari bahaya tsunami yang bisa terjadi kapan saja, maka diperlukan upaya kesiapsiagaan oleh semua pihak, pemerintah daerah, masyarakat, akademisi, dunia dan usaha dan media harus berkolaborasi bersama dalam mengurangi resiko bencana itu sendiri. Untuk mencapai ketahanan bencana, diperlukan data akurat dari para peneliti atau akademisi. Kita juga memerlukan peran media dalam pendidikan bencana. Selain itu, dukungan masyarakat dan dunia usaha dalam mengurangi resiko bencana juga sangat diharapkan.
“Kami sebagai pemerintah daerah berharap melalui kajian ini dapat dilakukan pemetaan resiko dengan menghasilkan peta resiko tsunami untuk desa-desa pesisir berdasarkan beberapa kemungkinan skenario tsunami. Peta resiko merupakan hal yang mendasar dalam manejemen bencana dan sangat penting efektif sebagai alat mitigasi. Dengan menggunakan peta resiko, pemerintah dan lembaga lainnya dapat mendidikasikan sumber daya secara efektif ke wilayah-wilayah yang paling membutuhkan dan membuat rencana sebelum terjadinya insiden, sehingga sumber daya tanggap untuk menjangkau wilayah-wilayah dengan resiko paling tinggi tanpa masalah yang tidak terduga. Sehingga pada akhirnya kita bisa mendapatkan pandangan yang komperhensif dalam menentukan daerah rawan tsunami di Ambon. Selain itu, kita dapat mempersiapkan masyarakat melalui pendekatan non-struktural seperti pendidikan, penyusunan standar operasional prosedur dan latihan evakuasi,” ujarnya.
Dikatakan pula, pada bulan April hingga Mei, dilakukan latihan evakuasi di 6 desa yang menjadi lokasi program IDRIP. Kami berharap melalui program SATREP ini masih ada desa lain yang bisa diintervensi. Misalnya saja desa rumah tiga yang terletak di Teluk Ambon dengan potensi bahaya tsunami yang tinggi. Terdapat banyak pemukiman warga di pesisir Desa Rumah Tiga dan termasuk salah satu rumah sakit umum milik pemerintah. Apabila bahaya tsunami dapat dipetakan dengan baik maka akan sangat membantu pemerintah dalam mempersiapkan kemungkinan terburuk terjadinya tsunami itu sendiri. Pemerintah Kota Ambon sangat mengapresiasi pelaksanaan Program SATREPS saat ini.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat, mulai dari tim ilmu pengetahuan dan teknologi Jepang, Universitas Tohoku, Universitas Pattimura, BNPB, BMKG, serta pihak-pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Semoga kerjasama ini membuahkan hasil yang luarbiasa bagi ketahanan bencana di Ambon, seperti yang dikatakan Hellen Keller: Sendiri kita dapat melakukan hal kecil, bersama-sama kita dapat melakukan banyak hal,” ucapnya.
Bagi para peneliti dan narasumber yang baru pertama kali berkunjung ke Ambon, saya ucapakan selamat datang di Ambon. “Saya harap kunjungan anda ke Ambon berkesan bagi anda semua. dan untuk seluruh peserta workshop, semoga mendapat diskusi yang produktif dan bermakna. terima kasih atas perhatiannya, semoga Tuhan memberkati kita semua,” harapnya.
Di kesempatan yang sama juga Supervisor Penelitian Dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jepang (JST), Keyko dalam sambutannya menjelaskan Tujuan Proyek SATREPS adalah untuk mempromosikan penelitian internasional bersama untuk membahas dan menyelesaikan isu global sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam Program SATREPS, para peneliti Jepang dan perusahaan atau negara yang berkolaborasi bersama-sama mengahadapi permasalahan global, menemukan ilmu pengetahuan baru dan teknologi dengan aplikasi nyata. (BM31)




