Ambon,
| Rektor Universitas Pattimura, Fredy Leiwakabessy menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjadikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi sebagai kekuatan nyata dalam pembangunan Maluku. Pesan tersebut disampaikan saat membuka Kuliah Umum bertema “Peranan dan Kebijakan Pemerintah Daerah dalam Perkembangan Sains dan Teknologi sebagai Penggerak Pembangunan di Maluku” di Auditorium Universitas Pattimura, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan yang digelar Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Pattimura itu menghadirkan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, sebagai narasumber. Forum tersebut diarahkan untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai kebijakan pemerintah daerah serta posisi sains dan teknologi dalam menjawab kebutuhan pembangunan di Maluku.
Menurut Fredy, kehadiran Gubernur Maluku di lingkungan kampus menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk memahami hubungan antara perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebijakan pembangunan daerah. Perguruan tinggi, kata dia, harus mampu membaca perubahan dan merespons kebutuhan masyarakat secara konkret.
Universitas Pattimura saat ini memiliki sembilan fakultas dan satu program pascasarjana dengan jumlah mahasiswa sekitar 30 ribu orang. Pada Tahun Akademik 2026/2027, mahasiswa baru mencapai lebih dari 6.000 orang, termasuk sekitar 580 mahasiswa yang masuk Fakultas Sains dan Teknologi.
Perkembangan tersebut menunjukkan perubahan signifikan pada Fakultas Sains dan Teknologi yang sebelumnya bernama FMIPA dan memiliki empat program studi. Kini, fakultas tersebut berkembang menjadi sekitar 12 program studi yang antara lain mencakup Bioteknologi, Sains Biomedis, Ilmu Komputer, Gizi, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, serta Farmasi.
“Universitas Pattimura siap untuk berkolaborasi secara signifikan dengan pemerintah, baik pemerintah pusat, daerah, kabupaten, kota, hingga desa melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” kata Rektor, Fredy Leiwakabessy.
Fredy menilai kolaborasi tersebut tidak dapat berhenti pada hubungan antara kampus dan pemerintah. Dunia usaha, dunia industri, komunitas, serta media massa juga perlu dilibatkan karena perubahan teknologi, regulasi, dan kebutuhan pembangunan berlangsung semakin cepat.
Paradigma pendidikan tinggi, lanjut Fredy, juga menuntut perguruan tinggi menghasilkan dampak yang dapat dirasakan masyarakat. Kampus tidak cukup hanya mencetak lulusan, tetapi harus menghadirkan gagasan, inovasi, penelitian, dan solusi yang relevan dengan persoalan pemerintah maupun masyarakat.
“Perguruan tinggi memberikan dampak yang nyata bagi pemerintah dalam memberikan solusi-solusi yang tepat bagi berbagai permasalahan. Perguruan tinggi hadir bukan untuk membawa masalah, tetapi membawa solusi,” tegas Rektor, Fredy Leiwakabessy.
Ia juga mengharapkan materi yang disampaikan Gubernur Maluku dapat memperkuat pemahaman sivitas akademika mengenai arah pembangunan daerah. Khususnya, bagaimana visi pembangunan Maluku melalui Sapta Cita dapat memiliki konektivitas dan keselarasan dengan Astacita Presiden Republik Indonesia.
“Semoga pikiran-pikiran yang menjadi visi besar beliau dalam Sapta Cita pembangunan di Provinsi Maluku dapat memberikan arah bagaimana konektivitas dan keselarasan dengan Astacita Presiden serta pembangunan di Maluku,” kata Rektor, Fredy Leiwakabessy.(BM31)









