“Kita coba melibatkan komunitas, karena kalau kita lihat, kebanyakan kerusakan terumbu karang ini terjadi akibat kita sendiri yang tidak pandai menjaga dan kurang memiliki kesadaran lingkungan,” kata Hairulnizam.
Ia menyoroti bahwa Teluk Ambon memiliki kekayaan hayati laut yang luar biasa, namun sayangnya semakin terancam oleh aktivitas pelayaran kapal besar dan pencemaran limbah.
“Kota Ambon ini cantik sekali, tapi jika tidak dijaga, semua bisa hilang. Komunitas harus diberi kesadaran agar sampah tidak dibuang ke laut,” imbuhnya.
Oleh karena itu, Hairulnizam berharap adanya peran aktif dari pemerintah daerah, khususnya pengaturan lalu lintas laut dan penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang memadai.
“Harapan saya kepada Wali Kota, supaya kawasan ini dijaga. Perlu ada regulasi dan dukungan konkret, agar komunitas bisa ikut menjaga kelestarian ini,” tegasnya.
Dibandingkan lokasi restorasi lain di Asia Tenggara, Teluk Ambon memiliki daya saing tinggi dalam keanekaragaman hayati, namun tingkat ancamannya juga tinggi jika tidak dikendalikan secara sistematis.
“Keindahan laut di Ambon ini lebih beragam dari kawasan lain di Indonesia. Tapi kalau tak dijaga, bisa habis. Di Malaysia, kesadaran komunitas sedikit lebih tinggi soal kebersihan laut,” pungkasnya.
MyCoral bukan hanya sebuah proyek konservasi, tetapi simbol dari kolaborasi transnasional yang mengedepankan riset ilmiah, edukasi komunitas, dan aksi nyata dalam menjaga masa depan ekosistem laut Indonesia. MSU menyatakan komitmennya untuk terus melanjutkan dukungan, tidak hanya dalam bentuk kegiatan restorasi, tetapi juga pelatihan, pengembangan riset, hingga pemberdayaan generasi muda lokal sebagai duta konservasi laut.
“Harapan kami bisa melebarkan program MyCoral ini, supaya dapat diketahui dunia, coral ini harus kita jaga untuk generasi-generasi muda,” tutup Hairulnizam. (BM31-JP)






