“Kita prihatin terhadap mereka yang terkena musibah. Ini bentuk perhatian kita kepada sesama, sesederhana apapun,” ujar Paulina Wokanubun Renyut.
Ia menjelaskan bahwa cuaca ekstrem yang melanda Ambon dalam beberapa bulan terakhir telah memicu berbagai bencana, termasuk banjir dan longsor yang menimpa keluarga besar WKRI di sejumlah wilayah.
Ziarah dan pemberian bantuan ini menunjukkan bahwa WKRI tidak hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Sebuah refleksi dari semangat pelayanan yang diwariskan sejak awal pendiriannya pada 26 Juni 1924.
WKRI didirikan oleh Raden Ajeng Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat Darmaseputra di Yogyakarta. Awalnya bernama Perkumpulan Ibu-ibu Katolik Pribumi, organisasi ini mengalami beberapa kali perubahan nama hingga menjadi Wanita Katolik Republik Indonesia.
Sejak awal berdirinya, WKRI berfokus pada pendidikan perempuan, penyediaan bacaan rohani, serta memperjuangkan hak perempuan dalam masyarakat. Dalam sejarah perjuangan bangsa, WKRI juga berperan aktif saat pendudukan Jepang dan era pasca-kemerdekaan.
Kini, di usia yang lebih dari satu abad, WKRI tetap eksis dan berperan aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, pelayanan kepada masyarakat, serta pemberdayaan perempuan dan anak.
Sebagai organisasi perempuan Katolik, WKRI juga menjalin kerja sama dengan berbagai mitra baik nasional maupun internasional dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan.
Di Maluku dan Maluku Utara, WKRI memiliki cabang di delapan paroki serta beberapa ranting yang tersebar di wilayah kepulauan. Struktur yang kuat ini menjadi tulang punggung dalam menjangkau masyarakat hingga ke tingkat paling bawah.
Dengan semangat kasih, iman, dan solidaritas, HUT ke-101 WKRI tahun ini menjadi momentum refleksi sekaligus komitmen untuk terus melayani, mendampingi, dan memperjuangkan kesejahteraan perempuan dan anak-anak di Tanah Air.
Meski dalam suasana hujan dan bencana, WKRI menunjukkan bahwa nilai-nilai kekatolikan, kebangsaan, dan kemanusiaan bisa terus dihidupi dengan cara sederhana namun penuh makna. Sebagaimana Pintu Suci yang terbuka, hati para perempuan WKRI juga terbuka untuk sesama.
Dan dari Ambon, semangat itu mengalir melintasi waktu dan batas wilayah. Sebagai bukti bahwa WKRI akan terus berjalan bersama umat dan bangsa, dalam pengharapan yang tak pernah padam. (BM31-05)




