Uraur-SBB,
| Sebuah video reels yang diunggah akun Facebook Pattiwael Huwae Hedy pada Kamis pekan lalu dengan caption: “Katong beda agama, bukan berarti Katong musuh, tapi Katong adalah saudara yang Tuhan ciptakan untuk saling menghormati,” memperlihatkan momen ketika Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Ranting Uraur memberikan cendera mata berupa sebuah Al-Qur’an kepada Rona Hitimala, mahasiswa Muslim peserta KKN Universitas Pattimura di Desa Uraur, Kecamatan Kairatu, Seram Bagian Barat.
Tindakan tersebut dilakukan pada hari terakhir masa KKN sebagai simbol persaudaraan lintas iman yang terjalin selama satu bulan. Video berdurasi 1 menit 15 detik itu telah ditonton lebih dari 96 ribu kali, memperoleh 6,2 ribu reaksi, mencatat lebih dari 200 komentar, serta dibagikan lebih dari 50 kali, yang menunjukkan tingginya respons publik terhadap aksi toleransi tersebut.
Video tersebut juga disertai narasi mengenai kebersamaan mahasiswa KKN dan AMGPM Ranting Uraur selama satu bulan, termasuk partisipasi Rona dalam berbagai kegiatan kepemudaan dan sosial gereja.
Respons warga yang membanjiri kolom komentar memperlihatkan emosi dan kebanggaan terhadap semangat toleransi di tanah Maluku. Banyak warga menyampaikan harapan agar kebersamaan seperti itu diwariskan kepada generasi berikutnya serta dijaga sebagai identitas budaya pela gandong.
Saat dihubungi BM31News, Rona Hitimala mengakui bahwa pengalaman KKN di Negeri Uraur menjadi salah satu momen paling bermakna dalam kehidupannya.
“Selama satu bulan KKN, saya diterima dengan sangat baik oleh Angkatan Muda Ranting Uraur. Walaupun saya berbeda agama, mereka mengajak saya ikut terlibat dalam seluruh kegiatan. Cendera mata berupa Al-Qur’an ini menjadi simbol cinta kasih dan persaudaraan yang akan saya ingat terus,” kata Rona Hitimala, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura angkatan 2021.

Senada dengan itu, Ketua Pengelola Mata Kuliah KKN Universitas Pattimura, Samuel Patra Ritiauw memberikan apresiasi terhadap tindakan AMGPM Ranting Uraur yang dinilai sejalan dengan nilai dasar kohesi sosial dalam program KKN 2025.
“Apa yang dilakukan AMGPM Ranting Uraur adalah tindakan positif dan patut menjadi contoh bagi masyarakat Maluku. Tema KKN tahun ini menekankan peningkatan kohesi sosial dan pencegahan konflik berbasis komunitas, dan peristiwa ini adalah implementasi nyata dari semangat tersebut,” kata Ritiauw.
Peristiwa di Negeri Uraur menjadi pengingat bahwa relasi sosial antarwarga Maluku masih berdiri kuat di atas filosofi orang basudara dan pela gandong. Dalam konteks provinsi yang memiliki sejarah konflik sosial di masa lalu, praktik saling menghormati lintas agama seperti ini bukan hanya wujud nilai budaya, tetapi juga modal sosial yang penting untuk memperkuat stabilitas masyarakat.
Tingginya antusiasme publik terhadap unggahan video tersebut menunjukkan bahwa cerita-cerita toleransi masih dibutuhkan sebagai penyeimbang arus informasi negatif di media sosial. Tindakan sederhana namun penuh makna ini memperlihatkan bahwa ruang perjumpaan lintas iman tidak hanya muncul dalam forum formal, tetapi tumbuh dari interaksi keseharian antara pemuda gereja dan mahasiswa Muslim dalam berbagai kegiatan komunitas. (BM31-JP)









