Ureng-Malteng,
| Fakultas Perikanan Universitas Pattimura (Unpatti) mendorong Kelompok Nelayan Tiga Nona di Desa Ureng, Kabupaten Maluku Tengah, keluar dari ketergantungan pada penjualan ikan segar melalui pengembangan produk olahan perikanan bernilai ekonomi tinggi. Upaya tersebut dilakukan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang didanai Dana DIPA Unpatti Tahun 2026 dan dilaksanakan pada Sabtu (20/6/2026).
Program tersebut berfokus pada peningkatan kapasitas nelayan dalam mengolah hasil tangkapan menjadi produk bernilai tambah. Langkah ini dinilai penting mengingat sebagian besar nelayan masih mengandalkan penjualan ikan segar yang rentan terhadap fluktuasi harga dan keterbatasan daya simpan, sehingga berdampak pada pendapatan rumah tangga nelayan.
Tim PKM Fakultas Perikanan Unpatti yang dipimpin Meigy Nelce Mailoa bersama anggota Jusuf Leiwakabessy dan Adrianus O. W. Kaya memberikan pelatihan diversifikasi produk berbahan baku perikanan lokal. Peserta diperkenalkan pada pembuatan sambal ikan asap dan biskuit berbahan tepung ikan teri sebagai alternatif usaha yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan produk mentah.
Selain pelatihan produksi, peserta juga memperoleh materi mengenai sanitasi dan higiene pangan, fungsi kemasan, serta strategi peningkatan mutu produk. Materi tersebut dirancang untuk membantu kelompok nelayan menghasilkan produk yang memenuhi standar kualitas dan memiliki peluang menembus pasar yang lebih luas.
“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam melakukan diversifikasi produk hasil perikanan sehingga tidak hanya bergantung pada penjualan ikan segar,” kata Ketua Tim PKM, Meigy Nelce Mailoa.
Program ini merupakan tindak lanjut dari proposal pengabdian yang lolos seleksi pendanaan PKM Tahun 2026. Tim pelaksana menegaskan bahwa kegiatan tidak berhenti pada tahap pelatihan, tetapi akan dilanjutkan dengan pendampingan dan evaluasi guna memastikan pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh kelompok sasaran.
Dalam sesi pembekalan, narasumber Agapery Y. Pattinasarany menekankan pentingnya perubahan pola pikir usaha nelayan. Menurutnya, keberhasilan produk olahan tidak hanya ditentukan oleh rasa, tetapi juga konsistensi mutu, kebersihan proses produksi, dan keberlanjutan usaha.
“Produk yang baik bukan hanya enak sekali, tetapi harus enak berkali-kali. Konsistensi rasa dan mutu menjadi kunci agar usaha dapat terus berkembang dan berkelanjutan,” kata Agapery Y. Pattinasarany.
Narasumber lainnya, Theodora E. A. A. Matrutty, menjelaskan bahwa pengolahan hasil perikanan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan sekaligus menjaga ketersediaan pangan saat musim paceklik. Produk seperti sambal ikan asap dan biskuit ikan teri dinilai memiliki potensi ekonomi sekaligus manfaat gizi bagi masyarakat, termasuk dalam mendukung upaya pencegahan stunting berbasis pangan lokal.
Ketua Kelompok Nelayan Tiga Nona, Mila Huath, menyambut positif program tersebut. “Kami sangat bersyukur mendapatkan ilmu baru yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha bagi kelompok dan masyarakat,” kata Mila Huath. Ia berharap keterampilan yang diperoleh dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi keluarga nelayan sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat Negeri Ureng.(BM31)






