Ambon,
– Kecelakaan laut di wilayah Maluku terus meningkat dengan total 34 kejadian sejak Januari hingga 17 Juli 2025, berdasarkan laporan Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Ambon (BASARNAS). Kepala Kantor, Muhamad Arafah, mengungkapkan bahwa tingginya aktivitas transportasi laut di kawasan seperti Tual, Dobo, dan Saumlaki membuat wilayah ini menjadi zona rawan kecelakaan yang membutuhkan kesiapan dan sinergi lintas sektor.
“Operasi SAR paling banyak kami lakukan di Tual karena aktivitas pelayaran dan nelayan sangat tinggi di sana. Termasuk kejadian kecelakaan mahasiswa UGM yang sedang KKN beberapa waktu lalu, itu bisa ditangani karena kerja sama tim SAR gabungan dan masyarakat,” kata Kepala Kantor, Muhamad Arafah saat ditemui diruang kerjanya pada Kamis (17/7/2025).
Menurut Arafah, pelaksanaan operasi SAR mengacu pada Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan, yang menetapkan jangka waktu pencarian selama tujuh hari. Operasi bisa diperpanjang apabila ditemukan indikasi keberadaan korban.
“Kalau tujuh hari belum ditemukan tetapi ada tanda-tanda korban, bisa diperpanjang tiga hari atau lebih. Itu sesuai SOP kami dan berlaku nasional,” ujar Arafah.
Wilayah kerja Kantor SAR Kelas A Ambon mencakup seluruh Provinsi Maluku, termasuk tujuh kabupaten dan dua kota. Armada serta personel telah disiagakan di enam lokasi strategis: Banda, Tual, Saumlaki, Dobo, Buru, dan Seram Bagian Timur. Prosedur pencarian memperhitungkan arus laut berdasarkan data BMKG, sehingga pola pencarian dapat diperluas secara akurat setiap harinya.
Sejak awal tahun, jumlah korban selamat tercatat 153 orang, korban meninggal 12 orang, dan hilang 10 orang dalam total 34 kejadian kapal tenggelam. Selain itu, tercatat tujuh insiden Kondisi Membahayakan Manusia (KMM) dan satu bencana alam dengan total tiga korban meninggal dunia.
Pendanaan operasi SAR ditanggung penuh oleh negara selama tujuh hari pertama. Masyarakat dapat langsung menghubungi layanan darurat 115 untuk meminta bantuan.
“Tidak ada pungutan biaya. Semuanya dari BBM sampai alat pendukung sudah disiapkan oleh negara. Call center 115 juga langsung terhubung ke pusat dan bisa mendeteksi lokasi pelapor,” jelas Arafah.
Angka kecelakaan yang signifikan ini menjadi peringatan serius bagi para pemangku kepentingan di sektor transportasi dan perikanan untuk meningkatkan keselamatan. (BM31-JP)




