BM31News
BM31News
BM31News
BM31News

Respons Cepat Basarnas Selamatkan 13 Penumpang KLM Cajoma V yang Karam di Perairan TNS

Teknologi darurat dan kecepatan respons SAR cegah korban jiwa dalam insiden kapal karam di Maluku.

Ambon, | Sistem sinyal darurat Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB) dan respons cepat Basarnas Ambon menjadi faktor penentu penyelamatan seluruh 13 penumpang Kapal Layar Motor (KLM) Cajoma V yang karam akibat cuaca buruk di Perairan Kecamatan Teun Nila Serua (TNS), Kabupaten Maluku Tengah, pada Senin (4/5/2026) sekitar pukul 21.55 WIT, setelah kapal mengalami kebocoran akibat gelombang tinggi dalam pelayaran dari Sorong menuju Kalabahi, Nusa Tenggara Timur.

Insiden bermula saat kapal pinisi tersebut dihantam gelombang tinggi di perairan Maluku. Tekanan gelombang menyebabkan kebocoran hingga kapal tidak dapat dipertahankan dan akhirnya tenggelam. Sebelum karam, awak kapal mengaktifkan EPIRB yang memancarkan sinyal marabahaya ke Basarnas Command Centre (BCC). Sinyal tersebut mengirimkan koordinat akurat lokasi kejadian yang kemudian diteruskan ke Basarnas Ambon untuk pelaksanaan operasi pencarian dan pertolongan (SAR).

Basarnas Ambon menerima informasi tersebut pada 5 Mei 2026 pukul 00.05 WIT dan segera mengerahkan Tim Rescue menggunakan KN SAR Bharata menuju lokasi kejadian yang berjarak sekitar 200 nautical mile arah tenggara dari Dermaga BRIN Ambon. Tim bergerak cepat untuk meminimalkan risiko terhadap korban yang berada di laut terbuka dalam kondisi cuaca ekstrem.

“Sejak kejadian terjadi kami terus melakukan koordinasi dengan pihak pemilik kapal. Dari informasi yang kami terima bahwa sebelum kapal tenggelam, seluruh penumpang berhasil menyelamatkan diri menggunakan sekoci dan menepi ke Pulau Nila untuk berlindung,” kata Kepala Kantor SAR Ambon, Muhamad Arafah.

Tim SAR tiba di lokasi pada 5 Mei 2026 pukul 16.27 WIT dan langsung melakukan proses evakuasi terhadap seluruh korban yang telah berada di Pulau Nila. Seluruh penumpang berhasil dievakuasi ke atas KN SAR Bharata dalam kondisi selamat.

“Alhamdulillah pada pukul 16.27 WIT KN SAR Bharata berhasil tiba di lokasi kejadian dan berhasil mengevakuasi seluruh penumpang ke atas KN SAR Bharata,” kata Muhamad Arafah.

Setelah evakuasi, seluruh korban diberangkatkan menuju Ambon pada pukul 17.35 WIT untuk mendapatkan penanganan lanjutan. Kapal tiba di Dermaga BRIN Ambon pada 6 Mei 2026 pukul 07.00 WIT. Basarnas kemudian menyerahkan para korban kepada pihak pemilik kapal untuk proses perawatan lebih lanjut. Dengan ditemukannya seluruh korban dalam keadaan selamat, operasi SAR resmi ditutup.

Secara situasional, kejadian ini menegaskan pentingnya sistem keselamatan maritim berbasis teknologi di wilayah kepulauan seperti Maluku yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap perubahan cuaca. EPIRB berfungsi sebagai alat vital dalam kondisi darurat karena mampu mengirimkan sinyal lokasi secara real-time, sehingga mempercepat respons tim SAR. Tanpa perangkat ini, proses pencarian di laut lepas berisiko memakan waktu lebih lama dengan peluang keselamatan yang lebih kecil.

Dari sisi dampak, keberhasilan evakuasi seluruh penumpang tanpa korban jiwa menunjukkan efektivitas koordinasi antara teknologi navigasi darurat dan kesiapsiagaan Basarnas. Hal ini menjadi indikator penting bagi peningkatan standar keselamatan pelayaran, khususnya bagi kapal tradisional yang beroperasi di jalur laut antarpulau dengan kondisi cuaca yang dinamis.

Ke depan, insiden ini mempertegas urgensi penerapan perangkat keselamatan wajib pada setiap kapal serta peningkatan kesadaran operator pelayaran terhadap prosedur darurat guna meminimalkan risiko kecelakaan di perairan Indonesia. (BM31)


Dapatkan berita terbaru dari BM31News.com langsung di ponsel Anda! Klik untuk bergabung di Channel WhatsApp dan Telegram kami sekarang juga.

BM31NEWS

@bm31news.com

Ikuti akun resmi BM31NEWS di TikTok

Follow