“Kita butuh sistem pemantauan berbasis masyarakat untuk deteksi dini terhadap blooming fitoplankton yang dapat membahayakan perikanan dan kesehatan,” ungkapnya.
Ia menyerukan kolaborasi erat antara pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat pesisir untuk membangun kebijakan berbasis sains dalam mengelola ekosistem laut.
“Perlu ada kebijakan lintas sektor yang mengintegrasikan riset ilmiah, partisipasi masyarakat, dan keberpihakan terhadap ekosistem laut,” tambahnya.
Prof. Irma juga mendorong penerapan Ocean Health Index (OHI) atau Indeks Kesehatan Laut sebagai alat ukur integratif dalam menilai kualitas lingkungan laut di Maluku.
“Data kami menunjukkan nilai IKLI di Teluk Ambon dan Teluk Baguala masih rendah. Ini harus menjadi alarm bagi semua pemangku kepentingan,” tegasnya lagi.
Guru besar ketiga yang dikukuhkan, Prof. Dr. Richard Benny Luhulima, menyampaikan pidato ilmiah bertajuk “Adaptasi dan Inovasi: Menjawab Kebutuhan Transportasi Laut di Kepulauan Indonesia yang Ramah Lingkungan”. Ia membahas tantangan geografis dan teknologi dalam moda transportasi laut nasional.
“Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia membutuhkan moda transportasi laut yang efisien, aman, dan ramah lingkungan,” tegas Prof. Richard Luhulima.
Ia mengemukakan bahwa kapal jenis multihull seperti trimaran mampu menjawab tantangan tersebut dengan konsumsi energi yang lebih rendah dan kapasitas angkut lebih besar dibanding kapal monohull.
“Hasil riset kami menunjukkan bahwa kapal trimaran memiliki hambatan yang lebih kecil dibanding kapal monohull, sehingga lebih hemat energi dan rendah emisi karbon,” jelasnya.
Dengan data simulasi CFD dan pengujian towing tank, trimaran menghasilkan emisi CO2 hanya 70,09 gr/ton-mile, jauh di bawah kapal konvensional yang mencapai 303,40 gr/ton-mile.
“Artinya, kapal trimaran tidak hanya lebih irit, tapi juga lebih bersahabat dengan lingkungan laut,” ujar Prof. Luhulima.
Ia juga menekankan perlunya reformasi regulasi transportasi laut nasional agar lebih memberi ruang bagi kapal inovatif, serta melibatkan perguruan tinggi dalam desain dan pengujian kapal laut tropis.
“Universitas Pattimura harus menjadi pelopor riset kapal tropis berbasis teknologi mutakhir dan keberlanjutan,” katanya.
Pengukuhan tiga guru besar ini mencerminkan posisi strategis Universitas Pattimura sebagai pusat keunggulan ilmiah di Indonesia Timur, yang terus mendorong pengembangan ilmu pengetahuan untuk menjawab tantangan nasional dan global. (BM31-JP)




