Masohi,
| Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah resmi melepas 34 Relawan Pendidikan untuk penanganan anak tidak sekolah tahun 2026 dalam sebuah kegiatan yang berlangsung di Aula SMP Negeri 38 Maluku Tengah, Selasa (19/5/2026). Program yang diprakarsai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Tengah itu difokuskan untuk menjangkau anak-anak putus sekolah di wilayah terpencil, pesisir, kepulauan, dan pegunungan yang selama ini mengalami keterbatasan akses pendidikan.
Kegiatan pelepasan relawan tersebut dihadiri perwakilan Direktorat Pendidikan Non Formal (PNF) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Cecep Suryana, jajaran Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta para relawan pendidikan yang akan diterjunkan ke lapangan.
Program relawan pendidikan ini menjadi salah satu langkah strategis Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah dalam mengatasi persoalan anak tidak sekolah yang hingga kini masih menjadi tantangan serius di daerah berjuluk Pamahanunusa tersebut. Kondisi geografis Maluku Tengah yang terdiri dari gugusan pulau, wilayah pesisir, hingga kawasan pegunungan menjadi faktor utama yang menyebabkan pemerataan akses pendidikan belum sepenuhnya tercapai.
Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, melalui sambutan tertulis yang dibacakan Asisten Setda Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Umar Sopalatu, menegaskan bahwa kehadiran relawan pendidikan bukan sekadar menjalankan program administratif, tetapi membawa misi sosial untuk menyelamatkan masa depan generasi muda Maluku Tengah.
“Keberadaan 34 Relawan Pendidikan ini bukan sekadar menjalankan program, tetapi membawa semangat kepedulian dan harapan bagi masa depan anak-anak Maluku Tengah,” kata Asisten Setda Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Umar Sopalatu.
Menurutnya, pemerintah daerah memandang sektor pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan daerah, sehingga upaya penanganan anak tidak sekolah harus dilakukan secara serius, terukur, dan melibatkan berbagai pihak.
Ia mengakui bahwa tantangan geografis Maluku Tengah menjadi hambatan nyata dalam pemerataan layanan pendidikan. Banyak wilayah yang sulit dijangkau sehingga berdampak pada rendahnya akses belajar bagi sebagian anak usia sekolah.
“Kita memiliki tantangan geografis yang tidak ringan, mulai dari gugusan pulau, daerah pesisir hingga kawasan pegunungan yang menyebabkan akses pendidikan di beberapa wilayah masih minim dan terbatas,” kata Umar Sopalatu.
Program relawan pendidikan tersebut dirancang dengan pendekatan lapangan berbasis kemanusiaan. Para relawan akan melakukan pendataan, pendampingan, edukasi keluarga, hingga mendorong anak-anak yang putus sekolah agar kembali memperoleh hak pendidikan mereka.
Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah menilai pendekatan berbasis komunitas dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci penting dalam menyelesaikan persoalan anak tidak sekolah. Selain keterbatasan akses wilayah, sejumlah faktor sosial dan ekonomi juga disebut turut memengaruhi angka putus sekolah di beberapa kecamatan kepulauan dan daerah terpencil.
Karena itu, relawan pendidikan diharapkan mampu membangun komunikasi aktif dengan pemerintah kecamatan, pemerintah negeri, pihak sekolah, serta masyarakat setempat agar program berjalan efektif dan tepat sasaran.
“Kerja bersama dan semangat gotong royong menjadi kunci agar program ini benar-benar memberikan dampak nyata,” kata Umar Sopalatu.
Pemerintah daerah juga memastikan program relawan pendidikan akan menjadi bagian dari perhatian serius Pemkab Maluku Tengah dalam memperkuat layanan pendidikan yang merata dan inklusif. Upaya tersebut mencakup peningkatan akses layanan pendidikan, penguatan kualitas tenaga pendidik, hingga pemerataan pendidikan di kawasan terpencil dan kepulauan.
Di sisi lain, kehadiran perwakilan Direktorat PNF Kemendikdasmen dalam kegiatan pelepasan relawan menunjukkan bahwa persoalan anak tidak sekolah di Maluku Tengah juga mendapat perhatian pemerintah pusat. Program ini diharapkan tidak berhenti pada agenda seremonial, tetapi mampu menghasilkan perubahan nyata berupa meningkatnya angka partisipasi sekolah di wilayah-wilayah yang selama ini terisolasi akses pendidikan.
Melalui pengerahan 34 relawan pendidikan tersebut, Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah menargetkan lebih banyak anak kembali mengenyam pendidikan dan memiliki kesempatan membangun masa depan yang lebih baik.
“Melalui program relawan pendidikan ini, kami berharap semakin banyak anak kembali bersekolah dan memiliki mimpi untuk meraih masa depan mereka,” kata Umar Sopalatu.(BM31)






