Ambon,
| Politeknik Negeri Ambon menyatakan sumber daya manusia (SDM) lokal untuk mendukung kebutuhan tenaga kerja Proyek Strategis Nasional (PSN) Blok Masela telah dipersiapkan sejak proyek tersebut masih berada dalam tahap perencanaan. Kesiapan itu dibangun melalui tiga program studi berbasis kebutuhan industri migas, pelatihan tenaga terampil, serta penguatan pendidikan vokasi. Kini, kampus menyebut tantangan berikutnya adalah memastikan lulusan mendapat kesempatan ketika rekrutmen tenaga kerja Blok Masela dibuka.
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Direktur Bidang Akademik Politeknik Negeri Ambon, Lory Marcus Parera, kepada media di ruang kerjanya, Sabtu (15/8/2026), seusai pembukaan Job Fair 2026 di Kampus Politeknik Negeri Ambon. Menurutnya, kampus sejak awal telah mengantisipasi kebutuhan SDM yang akan muncul seiring implementasi proyek gas di Blok Masela. Persiapan itu bahkan telah berjalan jauh sebelum proyek memasuki tahapan pembangunan.
“Jadi tiga prodi ini sebetulnya tujuannya untuk mempersiapkan sumber daya manusia untuk nantinya ketika Blok Masela itu diimplementasikan, berarti sumber daya kita sudah siap,” kata Wakil Direktur Bidang Akademik Politeknik Negeri Ambon, Lory Marcus Parera.
Tiga program studi tersebut terdiri atas Teknik Produksi Migas dan Teknologi Rekayasa Sistem Mekanikal Migas di Jurusan Teknik Mesin, serta Teknologi Rekayasa Sistem Kelistrikan Migas di Jurusan Teknik Elektro.
Lory menambahkan, hingga kini program-program tersebut telah menghasilkan lima angkatan lulusan. Kondisi itu, membuat Politeknik Negeri Ambon menilai SDM lokal sudah berada pada posisi siap ketika kebutuhan rekrutmen industri mulai terbuka.
Selain menyiapkan lulusan untuk kebutuhan jangka panjang, Politeknik Negeri Ambon juga mengantisipasi pekerjaan tahap awal pembangunan. Kampus melalui Jurusan Teknik Mesin telah menyiapkan tenaga welding melalui skema Training of Trainer (ToT) agar tersedia tenaga yang mampu melatih calon pekerja di wilayah sekitar Blok Masela. Langkah tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan pekerjaan infrastruktur dasar sebelum fasilitas industri dibangun.
“Jadi tenaga profesional kita sudah siap, dan ketika nanti pada saatnya perekrutan besar-besaran, itu tenaga-tenaga terampil welding dan sebagainya, itu sudah disiapkan,” ujarnya.
Kebutuhan SDM diperkirakan tidak berhenti pada tenaga teknik. Lory menyebut Politeknik Negeri Ambon juga menyiapkan kompetensi elektrikal, sipil, tata niaga, dan akuntansi untuk menghadapi kebutuhan pada tahap berikutnya. Namun, kesiapan pendidikan tersebut belum otomatis menjamin penyerapan lulusan karena peluang kerja tetap bergantung pada kebutuhan industri dan dibukanya proses rekrutmen.
Politeknik Negeri Ambon mengandalkan pendidikan vokasi dengan porsi praktik lebih besar untuk membentuk lulusan yang sesuai kebutuhan dunia industri. “60 persen itu kurikulumnya praktek, 40 persen itu adalah teori,” kata Lory. Ia juga menyebut alumni Politeknik Negeri Ambon telah bekerja di berbagai perusahaan di dalam dan luar Maluku sebagai salah satu gambaran pengalaman kerja lulusan.
Di sisi lain, Politeknik Negeri Ambon masih menghadapi keterbatasan fasilitas sehingga penguatan sarana, kurikulum, dan kompetensi mahasiswa terus dilakukan. Lory berharap lulusan SMA, terutama lulusan SMK di Maluku, dapat mempertimbangkan pendidikan vokasi sebagai jalur memasuki dunia industri.(BM31-01)





