Ambon,
| Universitas Terbuka (UT) Ambon mencatat 1.006 mahasiswa baru pada semester ganjil tahun akademik 2026/2027 yang tersebar di 11 kabupaten/kota di Provinsi Maluku. Jumlah tersebut menunjukkan jangkauan pendidikan tinggi berbasis pembelajaran jarak jauh yang menjangkau masyarakat di wilayah kepulauan, termasuk mereka yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan.
Sebanyak sekitar 250 mahasiswa baru yang berdomisili di Pulau Ambon dan sekitarnya mengikuti Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) dan Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh (PKBJJ) secara luring di Zest Hotel Ambon, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan yang dibuka Direktur UT Ambon, Yuli Tirtariandi El Anshori, berlangsung selama dua hari hingga Minggu (16/8/2026).
Yuli menjelaskan OSMB dan PKBJJ merupakan pembekalan awal bagi mahasiswa sebelum menjalani perkuliahan dengan sistem pendidikan jarak jauh. Mahasiswa baru pada prinsipnya wajib mengikuti kegiatan tersebut, sedangkan mereka yang tidak dapat hadir secara luring karena pekerjaan atau alasan lain diarahkan mengikuti kegiatan secara daring.
“Jumlah mahasiswa baru kita semester ini 1.006 orang, tersebar di 11 kabupaten/kota di Maluku. Khusus kegiatan hari ini dan dilanjutkan Minggu, 16 Agustus besok ini untuk mahasiswa baru yang berdomisili di Pulau Ambon dan sekitarnya itu ada 250 orang. Dan nanti yang lainnya akan kita arahkan mengikuti OSMB dan PKBJJ secara daring,” kata Direktur UT Ambon, Yuli Tirtariandi El Anshori.
Pola pembelajaran jarak jauh menjadi bagian penting dari model layanan UT karena mahasiswa tidak harus meninggalkan pekerjaan atau aktivitas sehari-hari untuk mengikuti pendidikan tinggi. Menurut Yuli, fleksibilitas tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat memilih UT, terutama bagi mereka yang telah bekerja tetapi belum memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan.
“Kenapa masyarakat memilih kuliah di UT, salah satunya karena fleksibilitas. Mereka yang sudah bekerja tetapi belum memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan bisa bekerja sambil kuliah, karena proses pembelajaran tidak mengganggu aktivitas sehari-hari,” kata Yuli.
Fleksibilitas tersebut tetap menuntut mahasiswa memiliki kemampuan belajar mandiri. Melalui PKBJJ, mahasiswa dibekali keterampilan mengatur waktu, mempelajari Buku Materi Pokok atau modul, memanfaatkan teknologi pembelajaran, serta mempersiapkan diri menghadapi evaluasi hasil belajar dan ujian akhir semester.
Dari sisi biaya, UT Ambon juga menawarkan struktur pembiayaan yang disebut relatif terjangkau. Yuli menyebut biaya pendaftaran jalur umum sebesar Rp100 ribu, tanpa uang gedung atau sumbangan pengembangan institusi, sedangkan biaya kuliah rata-rata sekitar Rp1,3 juta per semester.
“Dari sisi biaya, UT sangat terjangkau. Untuk jalur umum, biaya pendaftaran hanya Rp100 ribu. Tidak ada uang gedung atau sumbangan pengembangan institusi. Biaya kuliah rata-rata sekitar Rp1,3 juta per semester,” kata Yuli.
Selain fleksibilitas waktu dan biaya, UT juga menerapkan kebijakan yang menurut Yuli tidak memberlakukan sistem drop out. Ia menjelaskan kebijakan tersebut mempertimbangkan kondisi mahasiswa yang memiliki kesibukan dan kemampuan akademik berbeda, sehingga masa penyelesaian studi dapat berbeda antara satu mahasiswa dan lainnya.
Dalam kegiatan tersebut, UT Ambon juga menandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) Cabang Ambon. Kerja sama itu memberikan perlindungan asuransi kecelakaan diri kepada mahasiswa UT Ambon dengan masa pertanggungan selama satu tahun.
OSMB dan PKBJJ juga menghadirkan materi dari Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Binda) Maluku, Marsma TNI R. Harys Soeryo Mahendra, serta mitra UT lainnya. Rangkaian pembekalan tersebut diarahkan untuk memastikan mahasiswa baru memahami sistem pendidikan jarak jauh sekaligus memiliki kesiapan menjalani proses akademik dan menghadapi dunia kerja.
Yuli juga menyatakan UT Ambon menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Maluku yang terakreditasi A dari lebih dari 40 perguruan tinggi di provinsi tersebut. Pernyataan mengenai status akreditasi itu merupakan keterangan dari pihak UT Ambon dan menjadi informasi pendukung dalam konteks peningkatan akses pendidikan tinggi di Maluku.
Dengan 1.006 mahasiswa baru yang tersebar di 11 kabupaten/kota, tantangan UT Ambon tidak hanya terletak pada penerimaan mahasiswa, tetapi juga memastikan mahasiswa mampu menjalani pembelajaran mandiri secara konsisten. OSMB dan PKBJJ menjadi tahap awal untuk membekali mahasiswa agar fleksibilitas pendidikan jarak jauh dapat berjalan beriringan dengan disiplin akademik dan kesiapan menyelesaikan studi.(BM31)






