Saumlaki,
| Kain tenun tradisional asal Kabupaten Kepulauan Tanimbar kembali mendapat perhatian dari industri fashion internasional setelah desainer sekaligus pengajar desain fashion, Amelia Jang, melihat langsung potensi perajin lokal dalam kegiatan Tanimbar Living Heritage di Vila Bukit Indah Saumlaki, Kamis (24/9/2026).
Amelia Jang, lulusan Shanghai Raffles Design Institute dan pengajar di LaSalle Design College, hadir atas undangan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kepulauan Tanimbar untuk memberikan pembekalan serta pelatihan teknis kepada para perajin tenun.
Dalam pelatihan tersebut, Amelia mengajarkan teknik pengolahan kain tenun tangan (handwoven) menjadi produk fashion, termasuk pembuatan korset yang memiliki tingkat kerumitan teknis cukup tinggi.
“Hasilnya sangat memuaskan dan berada di luar ekspektasi saya. Awalnya saya sempat ragu modul pelatihan dapat diselesaikan tepat waktu karena materi yang dibawakan mencakup pembuatan korset dengan tingkat kerumitan teknik yang cukup tinggi,” ujar Amelia.
Keraguan tersebut, kata Amelia, terjawab melalui kemampuan dan kecepatan kerja para perajin. Target pelatihan yang dijadwalkan selesai pada pukul 15.00 WIT di hari kedua justru dapat dirampungkan dua jam lebih awal.
“Target yang dijadwalkan selesai pukul 15.00 WIT pada hari kedua, sudah berhasil dirampungkan pada pukul 13.00 WIT. Para peserta bahkan sempat membuat satu produk tambahan lagi untuk mereka sendiri. Ini adalah pencapaian yang sangat luar biasa,” kata Amelia.
Selain keterampilan teknis menjahit, Amelia memberikan perhatian khusus terhadap karakteristik kain tenun Tanimbar. Menurutnya, kain yang dibuat secara manual memiliki struktur serat dan tingkat kerapatan yang berbeda sehingga membutuhkan perlakuan khusus sebelum masuk ke tahap pemotongan dan penjahitan.
“Tenun buatan tangan membutuhkan teknik pelapisan (lining) kain terlebih dahulu sebelum dipotong atau dijahit agar seratnya tetap terjaga. Saya berharap para perajin terus memperdalam pemahaman jenis serat dan benang sehingga produk yang dihasilkan memiliki standar kualitas tinggi dan nilai jual yang kompetitif di pasar,” terangnya.
Pengalaman selama tiga hari berinteraksi dengan perajin dan ekosistem kerajinan di Saumlaki juga mendorong Amelia untuk mempertimbangkan penggunaan tenun Tanimbar dalam koleksi fashion yang akan dirancangnya.
Perhatian khusus diberikan terhadap kain tenun yang menggunakan teknik pewarnaan alami. Amelia menilai flora lokal Tanimbar memiliki potensi menghasilkan warna yang beragam dan memiliki karakter visual yang kuat.
“Jujur saja, saya pribadi sangat tertarik untuk membuat koleksi dengan tenun Tanimbar. Biasanya pewarnaan alami hanya menghasilkan nuansa warna cokelat yang terbatas, namun tumbuhan dan akar-akaran di Tanimbar justru mampu menghasilkan variasi warna yang kaya dan elegan,” ungkap Amelia.
Menurut Amelia, kekayaan warna, tekstur, serta karakter kain tenun Tanimbar menjadi modal penting untuk dikembangkan menjadi produk fashion dengan nilai tambah lebih tinggi. Namun, pengembangan tersebut membutuhkan peningkatan pemahaman perajin terhadap karakter bahan, teknik produksi, serta standar kualitas.
Ia juga berharap keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan tidak berhenti sebagai kemampuan teknis individual, tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha yang berkelanjutan bagi masyarakat Tanimbar.
Ketertarikan Amelia terhadap tenun Tanimbar sekaligus menunjukkan adanya peluang untuk memperluas pemanfaatan kain tradisional tersebut dari produk kerajinan menuju industri fashion yang memiliki jangkauan pasar lebih luas.
Dengan kekayaan motif, tekstur, serta potensi pewarnaan alami yang dimilikinya, tenun Tanimbar dinilai memiliki ruang pengembangan untuk masuk ke berbagai bentuk produk fashion, sekaligus tetap mempertahankan karakter budaya yang melekat pada kain tersebut.(BM31)





