BM31News
BM31News
BM31News
BM31News BM31News BM31News BM31News BM31News

Dari Pohon Ketapang ke Kelas Digital, Wajah Baru Pendidikan Malteng

Gerakan pendidikan inovatif di Maluku Tengah berhasil meningkatkan literasi, memperluas akses internet satelit, dan memperkuat kapasitas guru di wilayah 3T.

Masohi, | Di bawah rindangnya pohon Ketapang, suasana belajar di SDN 234 Maluku Tengah (Malteng) tampak berbeda, Rabu (29/10/2025). Anak-anak duduk melingkar di atas tikar, mata mereka berbinar menyimak kisah dari buku besar bertema Makanan Khas Maluku. Yang membuat suasana semakin istimewa, pembaca buku hari itu bukan guru melainkan Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir.

Kegiatan membaca bersama tersebut merupakan bagian dari gerakan transformasi pembelajaran yang digagas Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah. Program ini didukung oleh INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), sebuah kemitraan pendidikan antara pemerintah Indonesia dan Australia. Pendekatan big book reading yang digunakan dikenal secara global sebagai metode efektif untuk meningkatkan kemampuan literasi anak usia sekolah dasar.

Usai membaca bersama, Bupati Zulkarnain bergabung dalam pelajaran matematika di kelas. Ia ikut bermain ular tangga bersama siswa untuk mengenalkan konsep kelipatan bilangan. Suasana kelas penuh tawa ketika sang bupati melempar dadu dan memindahkan pion di papan permainan. Bahkan, salah satu siswi menantangnya untuk menjawab soal kelipatan empat, dan ketika jawaban benar, seluruh kelas bertepuk tangan meriah.

“Saya ingin anak-anak belajar dengan cara yang menyenangkan yang membuat mereka berpikir dan berani bertanya,” ujar Zulkarnain. Ia menegaskan bahwa pendidikan harus menyentuh hati, bukan sekadar mengisi kepala.

Transformasi pembelajaran ini telah berjalan selama setahun terakhir, dengan sasaran 47.000 siswa di 395 SD dan 45 MI di seluruh Kabupaten Maluku Tengah. Dengan kondisi geografis yang terdiri atas 95,8 persen wilayah laut, pulau-pulau kecil, dan pegunungan, pemerataan tenaga pendidik masih menjadi tantangan utama, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Menjawab tantangan tersebut, Pemkab Malteng menghadirkan akses internet berbasis satelit Starlink guna membuka konektivitas digital di wilayah terpencil. Perangkat dan genset telah disalurkan ke sekolah-sekolah terisolasi. Targetnya, 30 sekolah di daerah 3T akan terkoneksi digital sebelum akhir tahun 2025.

Selain infrastruktur, peningkatan kapasitas guru menjadi prioritas. Melalui Instruksi Bupati Nomor 420/04/INS/2025, seluruh guru diwajibkan mengikuti pelatihan mingguan di Kelompok Kerja Guru (KKG). Hasilnya mulai terlihat: kelas menjadi lebih interaktif, guru semakin kreatif, dan metode belajar semakin variatif. Nilai literasi siswa meningkat dari 43,51 pada 2023 menjadi 47,13 pada 2024, dengan tren positif juga tercermin dalam Indeks SPM Pendidikan.

Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah juga memperkuat komitmen melalui kebijakan strategis. Indikator kinerja literasi, numerasi, dan karakter kini diintegrasikan dalam sistem perencanaan dan penganggaran daerah, mencakup RPJMD, RKPD, Renstra, dan Renja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Malteng. Langkah ini memastikan bahwa transformasi pendidikan bukan hanya program sementara, tetapi menjadi bagian dari tata kelola pembangunan jangka panjang.

Kepala SDN 234 Malteng, Rugaya Ipaenin, menyampaikan bahwa dukungan Pemkab sangat membantu sekolah mengatasi tantangan literasi. Strategi yang diterapkan meliputi pemetaan kemampuan membaca siswa, pembentukan bengkel literasi, penyediaan media pembelajaran variatif, pelatihan guru rutin mingguan, komunikasi aktif dengan orang tua, dan pendampingan dari mitra pendidikan. Hasilnya, capaian literasi meningkat dari 56,67 persen (2024) menjadi 80 persen (2025).

Pakar pendidikan dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK), Anwar Kholil, menilai langkah Bupati Zulkarnain sebagai model pembelajaran abad ke-21. “Sekolah di Maluku Tengah berhasil mendesain proses belajar yang aktif, kolaboratif, dan kontekstual. Ini mencerminkan praktik pendidikan berkelas dunia,” ujarnya.

Menurutnya, metode yang diterapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman akademik, tetapi juga membangun karakter dan kompetensi global pada anak-anak.

Provincial Manager INOVASI Maluku, Mus Mualim, menegaskan bahwa transformasi pembelajaran ini akan memberikan dampak sosial ekonomi jangka panjang. Berdasarkan studi Hanushek & Woessmann (2012), peningkatan 10 persen pelajar dengan kemampuan membaca dasar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 0,3 persen per tahun. Sementara studi Lee Crawfurd (2025) menunjukkan bahwa peningkatan satu standar deviasi dalam literasi dan numerasi anak usia 7-12 tahun di Indonesia berpotensi meningkatkan pendapatan saat dewasa hingga 11 persen.

“Investasi pada keterampilan dasar seperti literasi dan numerasi bukan hanya urusan sekolah, tetapi pondasi kemajuan ekonomi daerah,” tegas Mus Mualim. (BM31-02)


Dapatkan berita terbaru dari BM31News.com langsung di ponsel Anda! Klik untuk bergabung di Channel WhatsApp dan Telegram kami sekarang juga.

error: Konten Dilindungi !