Ambon,
– Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku kembali menegaskan urgensi pendekatan psikososial dalam pengasuhan anak usia dini melalui kegiatan Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) dalam Kelas Orang Tua Hebat (KERABAT) Seri 4. Kegiatan yang berlangsung daring pada Rabu (30/7/2025) ini mengangkat tema “Anak Tumbuh Optimal, Dimulai dari Kesehatan Psikososialnya: Pendekatan Psikososial Anak dalam Periode Emas 1000 HPK.”
Diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian Peringatan Hari Anak Nasional 2025, kegiatan ini melibatkan peserta dari seluruh kabupaten/kota di Maluku, termasuk orang tua, kader Bina Keluarga Balita (BKB), pendidik PAUD, hingga tenaga pengasuh. Fokus utama pertemuan adalah penguatan kapasitas pengasuhan anak pada fase krusial 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang secara ilmiah terbukti sangat menentukan arah tumbuh kembang anak secara holistik.
“Kami ingin menegaskan bahwa tumbuh kembang anak tidak hanya ditentukan oleh asupan gizi atau imunisasi, tetapi juga oleh aspek psikologis dan sosial yang diterimanya sejak dalam kandungan,” kata Kepala Perwakilan BKKBN Maluku, dr. Mauliwaty Bulo.
Dalam sambutannya, Mauliwaty menyoroti pentingnya lingkungan yang penuh kasih sayang, aman, dan responsif sebagai pondasi bagi perkembangan emosi anak. Ia menekankan bahwa pengabaian terhadap aspek psikososial bisa berdampak jangka panjang pada kesehatan mental anak hingga dewasa.
“Tumbuh kembang anak tidak hanya soal makan dan imunisasi, tetapi juga soal pelukan, perhatian, kasih sayang, dan lingkungan yang aman secara psikologis dan sosial,” ujar Mauliwaty Bulo.
Materi inti disampaikan oleh psikolog anak Criezta Korlefura, yang membedah tuntas berbagai aspek psikososial sejak masa kehamilan. Ia menjelaskan bahwa kondisi emosional ibu selama hamil memiliki dampak langsung terhadap perkembangan otak janin. Emosi negatif, seperti stres dan kecemasan kronis, dapat mengganggu pertumbuhan saraf otak dan menurunkan daya tahan anak terhadap tekanan psikologis di masa depan.
“Berbicara dengan janin, memberi sentuhan penuh cinta, serta menciptakan suasana positif di rumah sangat mempengaruhi perkembangan neurologis dan emosional anak,” kata Criezta Korlefura.
Selain itu, Criezta juga mengupas berbagai mitos pengasuhan yang masih banyak dianut masyarakat, seperti anggapan bahwa bayi belum perlu diajak bicara atau tidak penting memberi ruang bermain aktif. Ia menjelaskan bahwa stimulasi verbal dan emosional sejak dini justru berperan penting dalam membentuk kecerdasan sosial dan empati anak.
Materi dilengkapi dengan pemaparan strategi pengasuhan berbasis usia, dimulai dari masa bayi hingga usia prasekolah. Para peserta diberikan panduan praktis mengenai cara membangun keterampilan dasar psikososial anak seperti kepercayaan diri (self-confidence), kesadaran diri (self-awareness), kemampuan mengekspresikan emosi, serta empati.
Pendekatan yang dipromosikan dalam kegiatan ini adalah positive parenting, sebuah strategi pengasuhan berbasis cinta, komunikasi, dan pembiasaan sosial yang mendukung kemandirian serta kesehatan mental anak.
Sebagai bagian dari penutupan kegiatan, BKKBN Maluku mengajak seluruh pihak untuk memperkuat jejaring dukungan lintas sektor. Kolaborasi antara keluarga, institusi pendidikan anak usia dini, serta fasilitas layanan kesehatan menjadi krusial dalam menciptakan ekosistem pengasuhan yang kondusif.
Dengan penyelenggaraan KERABAT Seri 4 ini, BKKBN Maluku berharap paradigma pengasuhan di wilayah kepulauan semakin bergeser ke arah yang lebih utuh dan manusiawi. Tujuannya bukan semata memenuhi standar fisik, tetapi juga membentuk generasi yang sehat secara mental, tangguh dalam bersosialisasi, dan bahagia menjalani hidup. (BM31)









