Ia mengatakan Observatorium Bossch menghadapi tantangan ini akibat polusi cahaya di wilayah Bandung. Pada tahun 2000, para astronom dan peneliti di ITB, khususnya di bidang astronomi, mulai mencari lokasi baru untuk membangun observatorium tersebut.
Berdasarkan investigasi, diketahui bahwa wilayah Nusa Tenggara Timur merupakan lokasi terbaik untuk observatorium, khususnya di Gunung Timau di Kabupaten Kupang. Thomas mengungkapkan, proses pengajuan observatorium itu tidak mudah.
Akhirnya, berkat kerja keras dan kerjasama pihak-pihak terkait, pembangunan Observatorium Nasional mendapat alokasi anggaran dan program pembangunan dimulai pada 2019. Namun, pembangunannya tertunda akibat Covid-19.
Observatorium Nasional, seperti Observatorium Bossch, harus berfungsi setidaknya selama 50 tahun. Pihaknya membuat Dark Sky National Park, sebuah konsep wisata unik yang memanfaatkan keindahan langit berbintang.
Observatorium Nasional Timau diharapkan memiliki teleskop 3,8 meter yang masih dalam pembangunan.Dijuluki Teleskop Timau, teleskop tersebut akan menjadi teleskop terbesar di Asia Tenggara.
Dengan teleskop Timau, planet-planet di luar tata surya (extrasolar planets) dan benda-benda redup lainnya seperti asteroid, satelit, dan komet harus diamati dengan kualitas yang lebih baik. Selain itu, disiapkan pula dua jenis kamera, yakni tiga kamera optik dan nirkabel untuk keperluan fotometrik.
Observatorium Nasional Timau juga dilengkapi dengan beberapa teleskop kecil untuk mengamati matahari, benda-benda di tata surya dan luar angkasa. Thomas juga membagikan foto Observatorium Nasional Timau yang masih dalam tahap pembangunan.Dia berharap untuk membuka Observatorium Nasional akhir tahun ini setelah teleskop dipasang.
“Dengan sejarah panjang Observatorium Bossch dengan pencapaiannya yang beragam, khususnya dalam pengamatan langit selatan, kami akan terus memperjuangkan realisasi dan pemanfaatan Observatorium Nasional Timau dalam komunitas kerjasama nasional dan internasional yang semakin kuat,” jelas Thomas. (BM31)





