banner 1080x1921

Perjalanan Panjang Observatorium Bosscha siap Tergantikan

Jakarta, BM31News.com – Tahun ini merupakan tahun yang istimewa bagi sejarah dan perkembangan astronomi di Indonesia. Faktanya, Observatorium Bossch sedang merayakan hari jadinya yang ke-100.

Institut Teknologi Bandung (ITB) Departemen Matematika dan Ilmu Pengetahuan Hayati (FMIPA) Profesor Thomas Djamaluddin mengungkapkan asal-usul Observatorium Bossch dan tantangan masa depan. Hal itu terungkap dalam kuliah ilmiah memperingati 103 tahun pendidikan tinggi teknik di Indonesia bertajuk “100 Tahun Observatorium Bossch dan Menyambut Astronomi Indonesia ke Masa Depan”.

banner 1080x1080

Thomas menyatakan bahwa observatorium Bossch diresmikan pada tahun 1923.Ada tiga faktor utama yang mendukung pembuatan observatorium di Jawa. Terutama karena alasan ilmiah, yaitu kebutuhan akan observatorium di belahan bumi selatan.

Kedua, ada dorongan dari astronom Dr. J. G. E. Voute tertarik mengamati bintang biner. Ketiga, dukungan kuat dari Bosscha.

Thomas mengatakan, dengan dukungan berbagai pihak terkait, akhirnya bisa dibangun observatorium pertama di Jawa, yaitu observatorium Bossch dengan Voute sebagai direktur pertama. Ada tiga teleskop utama di Observatorium Bossch, yaitu Teleskop Zeiss, Teleskop Bamberg, dan Teleskop “Bima Sakti” Schmidt.

Baca Juga:  Leiwakabessy Lantik Para Wakil Dekan Fakultas Hukum UNPATTI Periode 2024-2028

Selain teleskop besar, ada juga beberapa teleskop kecil untuk penelitian dan pengajaran. Teleskop radio kecil kemudian dikembangkan untuk mempromosikan penelitian dan pengajaran dalam rentang multi-panjang gelombang.

Thomas memeriksa salah satu program observatorium Bossch. Pada tahun 1997, Jasinta membuat database visual binari yang diamati selama 70 tahun sejak 1924.

Basis data berisi sekitar 10 bintang.000 data dari 600 pasangan bintang ganda. Sekitar 60 pasang di antaranya memiliki orbit yang jelas.

Lebih dari 20 publikasi digunakan untuk membuat database. Ini menunjukkan pentingnya observatorium Bossch untuk mempelajari bintang ganda, terutama di langit selatan.

Thomas mengatakan tantangan terbesar bagi observatorium optik adalah ancaman polusi cahaya dari pembangunan perkotaan di sekitarnya.Tantangan bagi observatorium radio, sementara itu, adalah ancaman yang ditimbulkan oleh penggunaan frekuensi radio.

Ia mengatakan Observatorium Bossch menghadapi tantangan ini akibat polusi cahaya di wilayah Bandung. Pada tahun 2000, para astronom dan peneliti di ITB, khususnya di bidang astronomi, mulai mencari lokasi baru untuk membangun observatorium tersebut.

Baca Juga:  Serah Terima Jabatan, Hendrik Salmon Sah Sebagai Dekan Fakultas Hukum UNPATTI

Berdasarkan investigasi, diketahui bahwa wilayah Nusa Tenggara Timur merupakan lokasi terbaik untuk observatorium, khususnya di Gunung Timau di Kabupaten Kupang. Thomas mengungkapkan, proses pengajuan observatorium itu tidak mudah.

Akhirnya, berkat kerja keras dan kerjasama pihak-pihak terkait, pembangunan Observatorium Nasional mendapat alokasi anggaran dan program pembangunan dimulai pada 2019. Namun, pembangunannya tertunda akibat Covid-19.

Observatorium Nasional, seperti Observatorium Bossch, harus berfungsi setidaknya selama 50 tahun. Pihaknya membuat Dark Sky National Park, sebuah konsep wisata unik yang memanfaatkan keindahan langit berbintang.

Observatorium Nasional Timau diharapkan memiliki teleskop 3,8 meter yang masih dalam pembangunan.Dijuluki Teleskop Timau, teleskop tersebut akan menjadi teleskop terbesar di Asia Tenggara.

Dengan teleskop Timau, planet-planet di luar tata surya (extrasolar planets) dan benda-benda redup lainnya seperti asteroid, satelit, dan komet harus diamati dengan kualitas yang lebih baik. Selain itu, disiapkan pula dua jenis kamera, yakni tiga kamera optik dan nirkabel untuk keperluan fotometrik.

Baca Juga:  Yudisium Fakultas Teknik UNPATTI Periode April, 3 Mahasiswa Peroleh Predikat Cumlaude

Observatorium Nasional Timau juga dilengkapi dengan beberapa teleskop kecil untuk mengamati matahari, benda-benda di tata surya dan luar angkasa. Thomas juga membagikan foto Observatorium Nasional Timau yang masih dalam tahap pembangunan.Dia berharap untuk membuka Observatorium Nasional akhir tahun ini setelah teleskop dipasang.

“Dengan sejarah panjang Observatorium Bossch dengan pencapaiannya yang beragam, khususnya dalam pengamatan langit selatan, kami akan terus memperjuangkan realisasi dan pemanfaatan Observatorium Nasional Timau dalam komunitas kerjasama nasional dan internasional yang semakin kuat ,” jelas Thomas. (BM31)

banner 1080x1080
banner 1080x1534
error: Konten Dilindungi !