Masohi, BM31News | Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah menegaskan pembangunan pabrik hilirisasi kelapa dan pala senilai Rp640 miliar di Kecamatan Teluk Elpaputih menjadi langkah strategis untuk mengubah struktur ekonomi daerah dari ketergantungan pada penjualan bahan mentah menuju industri pengolahan bernilai tambah. Proyek yang dibiayai melalui APBN tersebut ditandai dengan pelaksanaan groundbreaking di Negeri Liang, Rabu (29/4/2026), dan dihadiri jajaran Pemerintah Provinsi Maluku, direksi PT Perkebunan Nusantara (PTPN), unsur Forkopimda, serta tokoh masyarakat setempat.
Pembangunan fasilitas hilirisasi itu diproyeksikan menjadi pusat pengolahan komoditas unggulan Maluku Tengah, khususnya kelapa dan pala, yang selama ini sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku. Pemerintah daerah menilai pola ekonomi tersebut menyebabkan nilai tambah komoditas lebih banyak dinikmati di luar daerah, sementara petani lokal hanya memperoleh keuntungan terbatas dari rantai produksi.
Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, menyatakan proyek tersebut bukan sekadar pembangunan fisik industri, tetapi bagian dari transformasi ekonomi jangka panjang yang diarahkan untuk memperkuat kemandirian daerah.
“Pembangunan proyek hilirisasi kelapa dan pala ini bukan sekadar seremoni pembangunan fisik, tetapi merupakan langkah strategis menuju transformasi ekonomi daerah. Ini adalah peluang besar bagi Maluku Tengah untuk bangkit menjadi daerah yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera,” kata Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir.
Menurut Zulkarnain, Maluku Tengah memiliki potensi perkebunan yang besar, terutama pada komoditas kelapa dalam dan pala yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan masyarakat. Namun, potensi tersebut dinilai belum memberikan dampak maksimal terhadap pertumbuhan ekonomi daerah karena belum didukung industri pengolahan yang kuat.
Ia menjelaskan, tren masyarakat yang mulai aktif membuka dan mengelola lahan perkebunan menunjukkan adanya perubahan pola pikir ekonomi di tingkat akar rumput. Kelapa, pala, dan cengkih kini tidak lagi dipandang sekadar tanaman tradisional, melainkan aset ekonomi jangka panjang.
“Kelapa dalam dan pala bukan hanya komoditas unggulan, tetapi juga telah menjadi bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat. Bahkan saat ini masyarakat dari berbagai profesi telah mengelola lahan perkebunannya dengan menanam kelapa, pala, dan cengkih. Tidak berkebun, tidak keren,” kata Zulkarnain Awat Amir.
Investasi sebesar Rp640 miliar itu dinilai memiliki dampak ekonomi luas karena akan membuka rantai industri baru di wilayah Maluku Tengah. Kehadiran pabrik hilirisasi diperkirakan mampu meningkatkan nilai jual hasil perkebunan melalui proses pengolahan, memperluas pasar komoditas, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar.
Selama ini, sebagian besar hasil perkebunan rakyat dijual dalam bentuk mentah dengan ketergantungan tinggi terhadap fluktuasi harga pasar. Kondisi tersebut membuat posisi petani rentan dan tidak memiliki kontrol besar terhadap nilai ekonomi produk yang dihasilkan. Dengan hadirnya industri pengolahan di daerah produksi, pemerintah berharap distribusi keuntungan ekonomi menjadi lebih merata.
“Nantinya masyarakat tidak lagi hanya menjual hasil mentah, tetapi mulai bergerak menuju pengolahan yang memberikan nilai tambah. Dampaknya tentu akan sangat luas, mulai dari peningkatan pendapatan petani, terbukanya lapangan kerja, hingga berkurangnya tingkat pengangguran,” kata Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir.
Groundbreaking proyek itu juga menandai masuknya investasi strategis BUMN perkebunan di sektor hilirisasi Maluku. Pemerintah daerah menilai keterlibatan PT Perkebunan Nusantara menjadi sinyal kuat bahwa Maluku Tengah mulai dipandang sebagai kawasan potensial dalam pengembangan industri berbasis sumber daya alam.
Selain aspek ekonomi, pemerintah daerah menekankan pentingnya keberlanjutan lingkungan dalam pelaksanaan proyek. Zulkarnain mengingatkan pembangunan industri tidak boleh mengabaikan prinsip etika lingkungan, terutama karena sektor perkebunan memiliki keterkaitan langsung dengan keberlanjutan ekosistem dan ruang hidup masyarakat.
Ia meminta seluruh pihak, termasuk investor, pemerintah, dan masyarakat, menjaga kolaborasi agar proyek berjalan sesuai tujuan awal, yakni menghadirkan kesejahteraan sosial tanpa merusak keseimbangan lingkungan.
Kehadiran pabrik hilirisasi kelapa dan pala di Teluk Elpaputih dipandang sebagai momentum penting bagi perubahan arah pembangunan Maluku Tengah. Jika berjalan sesuai target, proyek tersebut berpotensi menjadi model pengembangan ekonomi berbasis hilirisasi komoditas unggulan di Maluku, sekaligus memperkuat posisi daerah dalam agenda nasional industrialisasi sektor perkebunan. (BM31-02)





