Ambon,
| Universitas Pattimura (Unpatti) mendorong institusionalisasi Olimpiade Sains yang diselenggarakan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) sebagai jalur resmi seleksi talenta sains Maluku ke tingkat nasional. Dorongan ini mengemuka dalam penutupan Olimpiade Sains FST di Aula Rektorat Unpatti, Selasa (14/4/2026), sebagai respons atas kebutuhan sistem seleksi yang terintegrasi, berkelanjutan, dan diakui oleh pemerintah pusat guna memperluas akses siswa daerah ke kompetisi nasional.
Momentum ini tidak sekadar menjadi penutup kegiatan tahunan, tetapi menandai arah baru kebijakan pengembangan sumber daya manusia berbasis sains di Maluku. Rektor Unpatti menegaskan bahwa kompetisi yang telah berlangsung sejak 2008 itu kini harus ditingkatkan status dan skalanya agar memiliki legitimasi formal dalam sistem pendidikan nasional.
“Ke depan, kegiatan ini diharapkan dapat ditingkatkan skalanya menjadi Olimpiade Sains tingkat Provinsi Maluku,” kata Rektor Universitas Pattimura, Fredy Leiwakabessy.
Dorongan tersebut berangkat dari realitas bahwa hingga kini, hasil seleksi Olimpiade Sains di tingkat perguruan tinggi belum sepenuhnya terintegrasi dalam mekanisme resmi seleksi nasional. Padahal, partisipasi siswa yang terus meningkat setiap tahun menunjukkan potensi besar daerah dalam melahirkan talenta sains yang kompetitif.
Rektor juga menekankan pentingnya penguatan sistem pendukung, termasuk pengelolaan data peserta secara berkelanjutan untuk membaca tren partisipasi dan performa sekolah. Hal ini dinilai krusial sebagai dasar penyusunan kebijakan pendidikan berbasis data di tingkat daerah.
Dalam konteks yang sama, Pemerintah Provinsi Maluku melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan dukungan terhadap upaya tersebut. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dinilai menjadi kunci dalam mendorong pengakuan formal dari pemerintah pusat.
“Kami berharap ke depan ada pengakuan dari kementerian, sehingga hasil seleksi di Universitas Pattimura dapat langsung menjadi representasi Maluku di tingkat nasional,” kata Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Fentje Mandaku.
Pernyataan ini mempertegas adanya kebutuhan sinkronisasi antara sistem seleksi di daerah dengan kebijakan nasional. Tanpa pengakuan formal, potensi siswa daerah berisiko tidak terakomodasi secara maksimal dalam ajang kompetisi nasional, meskipun telah melalui proses seleksi yang kredibel di tingkat lokal.
Ketua Panitia Olimpiade Sains FST menambahkan bahwa kegiatan ini telah berkembang menjadi ruang strategis pembinaan talenta unggul, bukan sekadar ajang kompetisi.
“Partisipasi yang semakin luas setiap tahun menunjukkan meningkatnya minat dan kesadaran sekolah terhadap pentingnya kompetisi akademik sebagai bagian dari pengembangan kualitas pendidikan,” kata Ketua Panitia Olimpiade Sains, Windi Mosse.
Secara struktural, dorongan institusionalisasi ini juga didukung oleh transformasi internal FST Unpatti yang sejak 2024 telah berkembang dari empat menjadi 12 program studi. Ekspansi ini memperkuat kapasitas akademik universitas dalam membina dan mengembangkan talenta di bidang sains dan teknologi.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Maluku tengah menjalankan berbagai program peningkatan mutu pendidikan, mulai dari pemerataan distribusi guru, revitalisasi sekolah, hingga implementasi pembelajaran digital. Namun, tanpa sistem seleksi talenta yang terintegrasi hingga tingkat nasional, upaya tersebut dinilai belum sepenuhnya optimal dalam mendorong prestasi siswa.
Olimpiade Sains FST tahun ini sendiri menetapkan SD Citra Kasih Ambon, SMP Dian Harapan Ambon, dan SMA Negeri 1 Ambon sebagai juara umum. Namun lebih dari sekadar hasil kompetisi, kegiatan ini kini berada pada titik krusial sebagai instrumen strategis dalam membangun ekosistem seleksi talenta sains yang terstruktur, berkelanjutan, dan diakui secara nasional.
Dorongan institusionalisasi Olimpiade Sains Unpatti pada akhirnya menjadi bagian dari agenda besar penguatan daya saing sumber daya manusia Maluku. Jika berhasil diintegrasikan ke dalam sistem nasional, langkah ini berpotensi membuka jalur baru yang lebih inklusif bagi generasi muda Maluku untuk berkompetisi di level yang lebih tinggi. (BM31)







