Ambon,
| Camat Manyeuw, Amrosius M. F. Letsoin, menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pattimura (Unpatti) Angkatan LIII Gelombang I Tahun Akademik 2026/2027 di Kecamatan Manyeuw, Kabupaten Maluku Tenggara. Ia meminta lima desa penerima mahasiswa memanfaatkan kehadiran 60 mahasiswa bukan sekadar untuk kegiatan sosial, tetapi juga membantu penguatan administrasi, pengembangan potensi desa, dan peningkatan kapasitas aparatur.
KKN Unpatti dijadwalkan berlangsung pada 14 Oktober hingga 14 November 2026 mendatang di sejumlah kabupaten/kota di Maluku. Di Kecamatan Manyeuw, dari sembilan desa yang ada, lima desa menyatakan kesediaan menerima mahasiswa, yakni Rumadian 10 orang, Debut 10 orang, Selayar 7 orang, Ngilngof 28 orang, dan Ohoililir 5 orang.
Letsoin menyampaikan dukungan tersebut kepada BM31News.com melalui sambungan telepon, Selasa (22/9/2026). Menurut dia, keterbatasan infrastruktur tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi perhatian terhadap mahasiswa yang menjalankan tugas akademik di desa.
“Iya betul sekali. Beta memang dari dulu bilang bahwa KKN itu penting, artinya dunia pendidikan itu penting sekali perlu diberi perhatian yang maksimal,” kata Camat Manyeuw, Amrosius M. F. Letsoin.
Ia menilai kehadiran mahasiswa Unpatti dapat menjadi kesempatan bagi pemerintah desa untuk membenahi sejumlah pekerjaan administratif yang masih perlu diperkuat. Letsoin secara khusus menyinggung kebutuhan penguatan administrasi desa, dokumentasi kegiatan, buku tamu, program PKK, serta pengembangan program berdasarkan potensi masing-masing desa.
“Makanya momen mahasiswa KKN dengan dosen-dosen datang itu momen yang kita bisa manfaatkan untuk membenahi kita punya ketertinggalan administrasi apa-apa di desa itu dong bisa benahi,” ujarnya.
Letsoin juga meminta pemerintah desa tidak memandang mahasiswa KKN hanya sebagai tamu yang harus dilayani kebutuhan konsumsi selama berada di lokasi. Ia menekankan mahasiswa datang dengan bekal pembinaan dari perguruan tinggi dan seharusnya diberi ruang untuk menjalankan tugas akademik serta program kerja di desa.
“Mahasiswa di seluruh desa itu dong mau turun KKN, dicoaching di perguruan tinggi baru dong turun. Jadi segala kemungkinan dong sudah persiapkan,” kata Letsoin.
Untuk memastikan kesiapan penerimaan, Letsoin berencana mengundang kepala desa dari lima lokasi penerima dalam pertemuan khusus di kantor kecamatan. Ia mengatakan mahasiswa nantinya akan diterima terlebih dahulu di tingkat kecamatan sebelum diantar menuju desa masing-masing.
Pembagian lokasi juga mempertimbangkan kondisi setiap desa. Desa Ohoiluk, misalnya, belum masuk dalam lima desa penerima karena pada Oktober 2026 terdapat kegiatan lain yang melibatkan mahasiswa dari Seminari Langgur, sedangkan Desa Ngayub menghadapi persoalan ketersediaan air bersih. Desa Namar juga belum diprioritaskan karena sebelumnya baru menyelesaikan kegiatan KKN dari perguruan tinggi lain.
Letsoin berharap mahasiswa dapat membantu desa mengembangkan potensi lokal, termasuk sektor wisata, pertanian, dan perikanan. Selayar, misalnya, memiliki kegiatan pengolahan ikan seperti ikan puri dan tongkol yang dinilai dapat menjadi bagian dari kajian pengembangan ekonomi masyarakat.
“KKN di sini katong harus terima, jadi tidak ada yang bilang bahwa alasan ini itu, harus terima” tegas Letsoin.
Ia juga meminta penempatan mahasiswa disesuaikan dengan kebutuhan desa dan tidak sekadar mengikuti kepentingan penerimaan. Menurut dia, mahasiswa dari Program Studi Ilmu Pemerintahan dapat membantu desa dalam pekerjaan yang berkaitan dengan administrasi dan tata kelola, sementara disiplin ilmu lain dapat diarahkan sesuai kebutuhan serta potensi masing-masing desa.
Di sisi lain, Letsoin menyebut koordinasi lanjutan masih diperlukan agar penerimaan mahasiswa berjalan tertib dan program KKN memiliki manfaat yang terukur.(BM31-01)





