Ambon,
| Institut Teknologi Bandung (ITB) mengaktifkan kembali jejaring sekitar 200 alumninya yang berdomisili di Maluku melalui kunjungan kerja dan silaturahmi di Ruang Senat Universitas Pattimura, Senin (29/6/2026). Langkah ini diarahkan untuk memperkuat kolaborasi di bidang riset, pendidikan, pengembangan karier, dan penerapan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan daerah. Pertemuan tersebut dihadiri jajaran pimpinan ITB, Ikatan Alumni ITB, Universitas Pattimura, serta para alumni yang bekerja di berbagai sektor di Maluku.
Kunjungan tersebut dipimpin Direktur Kealumnian ITB Sophi Damayanti bersama Direktur Persiapan Bersama ITB Fatimah Arofiati, Dekan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB Syafrizal, Ketua Umum Ikatan Alumni ITB Agustin Perangin-angin, dan Wakil Direktur Humas ITB Imam Santoso. Agenda utama pertemuan bukan hanya mempererat hubungan antara almamater dan alumni, tetapi juga menghimpun aspirasi serta memetakan peluang kerja sama yang dapat diwujudkan secara berkelanjutan.
Universitas Pattimura menyambut baik inisiatif tersebut karena dinilai sejalan dengan kebutuhan memperkuat sinergi antarlembaga pendidikan tinggi. Kehadiran alumni yang telah berkiprah di dunia akademik, pemerintahan, maupun sektor profesional dipandang sebagai modal penting untuk memperluas kolaborasi yang berdampak bagi Maluku.
“Pertemuan ini merupakan langkah strategis untuk menjalin sinergi antara almamater, institusi pendidikan setempat, dan para alumni guna mendukung kemajuan pendidikan serta pembangunan daerah,” kata Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Pattimura, Nur Aida Kubangun.
Menurut Nur Aida, data yang dimiliki menunjukkan terdapat sekitar 200 alumni ITB yang berdomisili dan bekerja di Maluku, termasuk sebagai tenaga pengajar di Universitas Pattimura maupun di berbagai lembaga lainnya. Potensi tersebut dinilai perlu dikonsolidasikan agar jejaring alumni tidak berhenti pada hubungan emosional, tetapi berkembang menjadi kekuatan yang mampu menghasilkan program nyata di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Direktur Kealumnian ITB menegaskan bahwa alumni memiliki posisi strategis dalam menghubungkan kebutuhan daerah dengan kapasitas akademik perguruan tinggi. Karena itu, kunjungan ke Maluku juga dimanfaatkan untuk mendengar masukan dari alumni mengenai tantangan pengembangan karier, riset, dan penerapan ilmu pengetahuan di daerah.
“Alumni merupakan aset strategis yang dapat menjadi jembatan antara almamater dengan kebutuhan pembangunan di daerah,” kata Direktur Kealumnian ITB, Sophi Damayanti.
Konsolidasi jejaring alumni menjadi penting karena tantangan pembangunan daerah semakin membutuhkan kolaborasi lintas institusi. Perguruan tinggi tidak hanya berperan menghasilkan lulusan, tetapi juga membangun ekosistem inovasi yang melibatkan alumni sebagai penghubung antara dunia akademik, pemerintah, industri, dan masyarakat.
Pertemuan di Universitas Pattimura diharapkan menjadi titik awal lahirnya kerja sama yang lebih konkret antara ITB, Universitas Pattimura, Ikatan Alumni ITB, dan para alumni di Maluku. Fokus kolaborasi diarahkan pada penguatan riset, peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, serta penerapan ilmu pengetahuan yang mampu memberikan manfaat nyata bagi pembangunan daerah.(BM31)





