Pengidap hipertensi akan mengetahui kondisinya setelah terjadi komplikasi seperti stroke, gagal ginjal, ensefalopati hingga kejang. Bila seseorang sudah dinyatakan mengidap hipertensi, maka pemeriksaan tekanan darah harus dilakukan satu bulan sekali dan tidak boleh dilewatkan. Karena dikhawatirkan tekanan darah tidak bisa dikontrol dan mengakibatkan komplikasi yang serius (Nirnasari et al., 2023; Trisnawan, 2019).
Faktor risiko atau pemicu terjadinya hipertensi tergolong menjadi dua kategori, yaitu tidak dapat dikontrol dan dapat dikontrol. Untuk kategori tidak dapat dikontrol, diantaranya adalah faktor genetika, jenis kelamin dan usia. Sedangkan kategori dapat dikontrol, contonya kurangnya aktivitas fisik, merokok, obesitas, pola makan atau konsumsi yang salah, konsumsi alkohol dan garam yang berlebihan (Trisnawan, 2019).
Pengobatan hipertensi bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu terapi non farmakologi dan terapi farmakologi. Terapi farmakologi berupa pemberian obat antihipertensi yang diberikan untuk mengontrol atau menurunkan tekanan darah. Beberapa jenis obat hipertensi yang kerap digunakan yaitu diuretic, vasodilator, beta bloker, calcium antagonis, inhibitor, Angiotensin Receprtor Blockers (ARBs) dan Angiotension Converting Enzyme (ACE).
Akan tetapi, sebaik apapun terapi farmakologi tersebut tentunya tetap memiliki kekurangan berupa efek samping. Beberapa efek samping obat antihipertensi yang sering muncul seperti ketergantungan obat, perasaan mual, lemas, nyeri abdomen, batuk kering, pusing, sakit kepala, kualitas tidur terganggu, hingga risiko gangguan kardiovaskuler. Sedangkan terapi non farmakologi berupa menurunkan berat badan bagi penderita obesitas, banyak mengonsumsi sayur dan buah untuk memenuhi kebutuhan kalium dalam tubuh, mengurangi asupan garam dan lemak jenuh, menjauhi minuman beralkohol, berhenti merokok dan melakukan aktivitas fisik (I. M. Putri & Melizza, 2022).
Salah satu aktivitas fisik yang mudah namun bisa menurunkan tekanan darah adalah latihan isometrik. Latihan isometrik adalah latihan statis yang tidak merubah panjangnya otot dan tidak melibatkan pergerakan sendi yang berat ketika otot dalam keadaan kontraksi. Latihan ini bisa dilakukan kapan, dimana saja, dengan intensitas ringan hingga sedang. Latihan isometrik yang sudah terbukti dalam penelitian untuk menurunkan tekanan darah adalah latihan isometrik dengan menggunakan handgrip, atau yang disebut dengan isometrik handgrip exercise (Zakiah, 2018).
Berbagai penelitian dilakukan terkait penerapan isometric handgrip exercise telah banyak dilakukan, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Choirillaily & Ratnawati (2020), tentang “Latihan Menggenggam Alat Handgrip Menurunkan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi” pada 16 responden yang menunjukkan bahwa dengan melakukan latihan menggenggam dengan alat handgrip selama 5 hari berturut-turut, didapatkan penurunan tekanan darah sistolik hingga sebesar 10 mmHg dan penurunan tekanan darah diastolik sebesar 5 mmHg.
Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Marsela & Samiasih (2023), tentang “Studi Kasus Penerapan Teknik Handgrip Exercise Terhadap Penurunan Tekanan Darah” pada 2 responden yang juga menunjukkan hasil rata- rata perubahan tekanan setelah 5 hari perlakuan, menunjukkan penurunan tekanan darah sistolik pada kedua pasien sebesar 6 mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar 8 mmHg. Ada juga penelitian yang dilakukan oleh Rosadi (2022), tentang “Studi Kasus : Penerapan Isometric Handgrip Exercise untuk Menurunkan Tekanan Darah Pada Lansia dengan Hipertensi” pada 2 responden juga menunjukkan adanya penurunan tekanan darah diastolik maupun sistolik.
Untuk bisa memberikan efek penurunan tekanan darah, Isometric Handgrip Exercise baiknya dilakukan rutin sekali sehari selama 5 hari berturut-turut dengan durasi latihan 45 menit kontraksi dan 15 menit istirahat (2x pengulangan) pada kedua tangan secara bergantian, menurut Choirillaily & Ratnawati (2020). Selain itu Marsela & Samiasih (2023), juga sependapat dengan penelitian di atas, yaitu latihan ini dilakukan 1x/hari selama 5 hari berturut-turut dengan durasi yang sama (4 menit/sesi), setelah sebelumnya istirahat 5 menit dan melakukan pengukuran tekanan darah. Sedangkan menurut Rosadi (2022), latihan ini bisa dilakukan dengan durasi 45 detik pada setiap kontraksi dan 15 detik istirahat, dimana kontraksi tersebut diulang hingga 6 kali pada setiap tangan (12 menit/sesi).
Berdasarkan literatur penelitian sebelumnya yang telah membuktikan maka dapat disimpulkan bahwa penerapan isometric handgrip exercise dapat menurunkan tekanan darah sistolik maupun tekanan darah diastolik pada penderita hipertensi. (BM31)








