Ambon,
| Program pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) yang ditargetkan pemerintah dalam tiga tahun disebut berpotensi membuka sekitar 5,5 juta lapangan kerja. Kebutuhan tenaga kerja tersebut mencakup pekerjaan pada tahap konstruksi hingga pekerjaan setelah pembangkit beroperasi.
Hal itu disampaikan Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi saat menghadiri peresmian Laboratorium Tenaga Surya dan Mikro Hidro di Politeknik Negeri Ambon, Senin (14/9/2026).
Menurut Eniya, program pengembangan PLTS merupakan bagian dari upaya memperluas akses listrik, termasuk bagi masyarakat di wilayah terpencil dan kepulauan. Sistem off-grid menjadi salah satu kebutuhan penting karena tidak seluruh wilayah dapat langsung terhubung dengan jaringan listrik utama.
Pemerintah, kata Eniya, juga mendorong pengembangan PLTS komunal melalui program Listrik Desa. Dalam konteks Maluku, karakter kepulauan membuat teknologi pembangkit yang dapat bekerja di luar jaringan menjadi relevan untuk dikembangkan.
“Untuk program khusus PLTS 100 gigawatt peak itu diharapkan ini dilaksanakan dalam tiga tahun dan bisa membuka pekerjaan lima setengah juta orang dari konstruksi sama yang after konstruksi,” kata Eniya Listiani Dewi.
Ia menjelaskan kebutuhan tenaga kerja setelah konstruksi memiliki tuntutan kompetensi yang berbeda karena berkaitan dengan pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit. Tenaga terampil dibutuhkan untuk memahami sistem fotovoltaik, inverter, baterai, serta konfigurasi pembangkit on-grid maupun off-grid.
Kebutuhan tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong perguruan tinggi vokasi membuka atau memperkuat program studi yang berkaitan dengan energi terbarukan. Polnam menjadi salah satu institusi yang diarahkan menyiapkan tenaga terampil untuk kebutuhan tersebut.
Eniya mengatakan potensi energi terbarukan di Indonesia Timur cukup beragam, mulai dari tenaga surya, hidro, angin, panas bumi, biomassa hingga energi laut. Maluku memiliki karakter kepulauan yang dapat menjadi konteks pengembangan berbagai teknologi tersebut.
Menurut Eniya, pengembangan SDM tidak semestinya hanya mengandalkan tenaga dari luar daerah. Pendidikan vokasi di wilayah pengembangan proyek diharapkan mampu menghasilkan tenaga lokal yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri.
“Jadi bukan harus ngimpor dari Jawa. Mengapa tidak? Kita di sini juga mampu kok SDM-SDM di sini sangat bagus dan sangat tough,” ujar Eniya Listiani Dewi.
Plt Direktur Polnam Lory Marcus Parera mengatakan program studi Energi Baru Terbarukan yang mulai menerima mahasiswa pada tahun ini telah dirancang berdasarkan kebutuhan pengembangan EBT di Maluku. Kurikulum program tersebut mencakup berbagai komponen energi terbarukan.
Polnam juga menyatakan siap memperkuat fasilitas praktik dan pengembangan kompetensi mahasiswa. Laboratorium tenaga surya dan mikrohidro yang baru diresmikan menjadi salah satu fasilitas pendukung pendidikan vokasi tersebut.(BM31-01)





