Ambon,
| Direktur Politeknik Negeri Ambon (Polnam) periode 2026–2030, Marceau Armstrong Fillex Haurissa, mencanangkan transformasi pendidikan vokasi yang lebih terhubung dengan kebutuhan industri dan potensi unggulan Maluku. Komitmen tersebut disampaikan dalam acara ramah tamah dan pisah sambut direktur Polnam yang berlangsung di Aula Polnam, Ambon, Kamis (18/6/2026), sebagai bagian dari transisi kepemimpinan setelah pelantikannya oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada 8 Juni 2026.
Dalam sambutannya, Haurissa menegaskan bahwa arah baru Polnam tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas akademik, tetapi juga pada penguatan relevansi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Menurutnya, pendidikan vokasi harus mampu menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi nyata dan siap bersaing di pasar kerja.
“Polnam harus menjadi rumah pendidikan vokasi yang menarik bagi generasi muda Maluku dan Indonesia Timur. Tempat mereka datang untuk belajar, berlatih, berkarya, dan pulang membawa kompetensi nyata,” kata Direktur Polnam, Marceau Armstrong Fillex Haurissa.
Visi tersebut lahir dari kebutuhan untuk menjawab tantangan pembangunan daerah yang semakin kompleks. Sebagai wilayah kepulauan, Maluku memiliki potensi besar di sektor maritim, perikanan, pariwisata, energi, dan ekonomi berbasis sumber daya lokal yang membutuhkan dukungan tenaga kerja terampil dan inovatif.
Karena itu, Polnam berencana memperkuat pendidikan berbasis teknologi terapan melalui optimalisasi laboratorium, pengembangan riset terapan, serta perluasan kerja sama dengan sektor industri. Langkah tersebut diharapkan mampu mempersempit kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang.
“Kita ingin Polnam menjadi kampus vokasi yang kuat dalam teknologi terapan, relevan dengan kebutuhan dunia industri dan dunia usaha, serta mampu menjawab potensi besar Maluku sebagai wilayah maritim,” ujar Haurissa.
Selain penguatan akademik, direktur baru juga menyoroti pentingnya reformasi budaya kerja di lingkungan kampus. Ia mengajak seluruh unsur civitas akademika untuk membangun tata kelola yang bersih, disiplin, terbuka terhadap perubahan, dan berorientasi pada peningkatan mutu layanan pendidikan.
Menurutnya, keberhasilan transformasi Polnam tidak dapat dicapai oleh satu orang atau satu kelompok saja. Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pimpinan kampus, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, mitra industri, pemerintah daerah, hingga masyarakat.
“Polnam tidak bisa dibangun oleh satu orang. Polnam harus dibangun melalui kerja sama dan kerja bersama seluruh elemen yang memiliki kepedulian terhadap masa depan kampus ini,” kata Haurissa.
Pada kesempatan yang sama, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Direktur Polnam periode 2022–2026, Dady Mairuhu, atas kontribusi dan pengabdiannya selama memimpin institusi tersebut. Haurissa menilai berbagai capaian yang telah diraih menjadi fondasi penting untuk melanjutkan pengembangan Polnam ke tingkat yang lebih tinggi.
Transformasi yang dicanangkan Polnam menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi pendidikan vokasi sebagai pilar pembangunan sumber daya manusia di Maluku. Dengan orientasi yang lebih dekat kepada kebutuhan industri dan potensi daerah, Polnam berharap dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus menjadi pilihan utama generasi muda yang ingin memperoleh pendidikan vokasi berkualitas.(BM31)






