BM31News
BM31News
BM31News
BM31News BM31News BM31News BM31News BM31News

GMKI Soroti Ketimpangan Infrastruktur Lewat Kegiatan Live In di Negeri Lohia Sapalewa

Kegiatan Live In GMKI di LohiaSapalewa mengungkap realitas keterisolasian dan ketimpangan pembangunan di wilayah pegunungan Seram.

Lohia Sapalewa-SBB, | GMKI Cabang Ambon melalui GMKI Komisariat IAKN Ambon melaksanakan kegiatan Live In di Negeri LohiaSapalewa, sebuah negeri di wilayah pegunungan Pulau Seram yang hingga kini masih menghadapi keterbatasan serius pada infrastruktur jalan dan jaringan komunikasi.

Akses menuju lokasi kegiatan mencerminkan tingkat keterisolasian wilayah tersebut. Rombongan peserta harus menempuh perjalanan laut sekitar dua jam dari Liang menuju Waipirit. Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui jalur darat selama kurang lebih enam jam dengan kondisi jalan rusak, sempit, dan sebagian besar belum beraspal. Pada sejumlah titik, kendaraan tidak dapat melintas sehingga perjalanan terpaksa dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Medan semakin berat saat rombongan menuruni jalur terjal menuju kaki gunung di kawasan pertemuan aliran Kali Papa dan Air Sapalewa. Dari titik ini, akses menuju Negeri LohiaSapalewa hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki menaiki gunung sejauh kurang lebih tiga kilometer melalui jalur tanah yang licin dan minim pengaman. Kondisi tersebut bukan sekadar tantangan kegiatan, melainkan realitas keseharian yang dihadapi masyarakat setempat.

Keterbatasan infrastruktur jalan berdampak langsung pada akses layanan dasar. Warga harus menempuh jarak jauh untuk menjangkau pusat kecamatan, layanan kesehatan, pendidikan, serta aktivitas ekonomi. Di sisi lain, jaringan telekomunikasi yang tidak stabil dan sangat terbatas membuat masyarakat kesulitan mengakses informasi, layanan digital, hingga komunikasi darurat.

Di tengah kondisi tersebut, GMKI tetap menjalankan berbagai program pelayanan sosial dan edukatif. Di bidang pendidikan dan perlindungan sosial, kegiatan meliputi sosialisasi pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi bagi siswa SMP, edukasi kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab tanpa jerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, evaluasi pembelajaran Sekolah Minggu dan raport, kegiatan outbound bagi siswa SD, pendampingan administrasi guru PAUD, serta pelatihan Alat Permainan Edukatif (APE) PAUD.

Pada sektor kesehatan, GMKI melaksanakan sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), praktik cuci tangan yang benar, serta pemeriksaan kesehatan gratis meliputi pengecekan gula darah, kolesterol, dan asam urat. Seluruh kegiatan tersebut dilaksanakan dengan menyesuaikan keterbatasan fasilitas, akses logistik, serta minimnya dukungan jaringan komunikasi.

GMKI juga mendorong pemberdayaan masyarakat melalui edukasi pertanian organik, pengendalian hama dan penyakit tanaman, pembuatan bedeng, serta penanaman sayur organik bersama warga. Di bidang kebudayaan, dilakukan dialog musik tradisional serta pembuatan suling bambu dan alat musik bambu sebagai upaya menjaga identitas lokal di tengah keterisolasian wilayah.

Sebagai bentuk dukungan konkret, GMKI Komisariat IAKN Ambon menyerahkan sejumlah bantuan, antara lain anakan pala kepada pemerintah negeri, jemaat, dan AMGPM guna mendukung penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. Selain itu, diserahkan pula alat musik pianika bagi siswa SD dan SMP untuk menunjang pembelajaran seni, serta bantuan lampu penerangan guna mendukung aktivitas belajar dan ibadah masyarakat.

Ketua Panitia kegiatan, Megi Lasibjanan, menegaskan bahwa pengalaman Live In di LohiaSapalewa membuka kesadaran kritis kader GMKI terhadap ketimpangan pembangunan. Menurutnya, kondisi infrastruktur jalan dan akses komunikasi yang terbatas menunjukkan bahwa pembangunan belum sepenuhnya menjangkau wilayah pegunungan. Ia menilai pengabdian tersebut sekaligus menjadi panggilan moral untuk terus menyuarakan keadilan pembangunan bagi masyarakat terpencil.

Sementara itu, Raja Negeri LohiaSapalewa, Thomas Soriale, menyampaikan apresiasi sekaligus harapan agar kehadiran GMKI dapat menjadi jembatan advokasi bagi masyarakat. Ia berharap kondisi infrastruktur jalan dan jaringan komunikasi di negerinya dapat disuarakan secara lebih luas serta mendorong kolaborasi berkelanjutan agar LohiaSapalewa tidak terus tertinggal dalam arus pembangunan.

Rangkaian kegiatan Live In ditutup dengan perayaan Natal bersama masyarakat sebagai simbol kebersamaan. Sebelum kepulangan, dilaksanakan ritual adat Pasawari sebagai bentuk pelepasan dan doa keselamatan, mengiringi rombongan yang kembali harus menempuh medan berat dan akses terbatas yang sama.

Melalui kegiatan ini, GMKI menegaskan perannya tidak hanya sebagai pelaksana program sosial, tetapi juga sebagai suara kritis yang merekam dan menyampaikan realitas ketimpangan pembangunan di wilayah pegunungan Pulau Seram, dengan harapan mendorong perhatian serta kebijakan publik yang lebih adil, inklusif, dan berpihak pada masyarakat terpencil. (BM31)


Dapatkan berita terbaru dari BM31News.com langsung di ponsel Anda! Klik untuk bergabung di Channel WhatsApp dan Telegram kami sekarang juga.

error: Konten Dilindungi !