Ambon,
| Kegiatan Pembinaan Wawasan Kebangsaan Mahasiswa Penerima Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK) Papua 3T resmi ditutup oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Hubungan Masyarakat, dan Alumni Universitas Pattimura, Nur Aida Kubangun di Quiin Hotel, Ambon, setelah berlangsung selama tiga hari. Penutupan ini menegaskan komitmen perguruan tinggi dan pemerintah untuk memperkuat karakter, nasionalisme, dan kesiapan akademik mahasiswa penerima beasiswa.
Kegiatan yang diikuti mahasiswa penerima Beasiswa ADIK dari Universitas Pattimura dan Politeknik Negeri Ambon tersebut menjadi wadah pembinaan strategis bagi generasi muda yang berasal dari daerah 3T, khususnya Papua dan Maluku, guna membangun pemahaman kebangsaan serta kesiapan menghadapi dunia akademik dan sosial.
Dalam sambutan penutup, Kubangun menyampaikan apresiasi kepada panitia dan para mahasiswa yang telah berpartisipasi aktif sepanjang kegiatan berlangsung. Ia menekankan bahwa pembinaan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan amanat serius dari pemerintah melalui PPAPT Kemendiktisaintek untuk memperkuat fondasi kebangsaan mahasiswa.
“Kegiatan ini sangat penting agar adik-adik memahami wawasan kebangsaan, menumbuhkan rasa cinta kepada Republik Indonesia, dan meneguhkan semangat membangun daerah asal, khususnya Papua dan Maluku,” kata Wakil Rektor, Nur Aida Kubangun.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar memanfaatkan peluang pendidikan dengan penuh tanggung jawab, khususnya terkait batas waktu beasiswa yang kini ditetapkan maksimal delapan semester.“
Beasiswa afirmasi ini adalah bentuk kepercayaan dan dukungan pemerintah. Karena itu, gunakan sebaik-baiknya, belajar sungguh-sungguh, dan jangan terpengaruh oleh hal-hal negatif,” tambah Kubangun.
Kubangun turut menyoroti pentingnya disiplin, pembentukan karakter, serta perlindungan terhadap mahasiswa selama menjalani studi. Dalam penyampaian resminya, ia menegaskan bahwa bidang kemahasiswaan menyediakan satgas dan layanan aduan bagi mahasiswa yang mengalami bentuk kekerasan maupun masalah psikososial selama proses pendidikan.
“Kami juga memiliki satgas dan layanan aduan bagi mahasiswa yang mengalami kekerasan dalam bentuk apa pun. Bidang kemahasiswaan siap melayani dan melindungi kalian,” tegas Kubangun.
Ia menutup rangkaian sambutan dengan dorongan moral agar para mahasiswa tetap menjaga kekompakan, ketekunan, dan integritas selama menjalani pendidikan.
“Kita harus tetap berjuang, saling menopang, dan pantang menyerah dalam menempuh pendidikan,” tutup Kubangun.
Pada hari terakhir kegiatan, mahasiswa menerima tiga materi kunci dari para pemateri profesional:
- Rezky Pratama Masuku (BNN Provinsi Maluku) dengan topik “Menjaga Masa Depan Bangsa: Bahaya Narkotika dan Minuman Keras di Kalangan Mahasiswa”.
- Grace Latuheru dengan materi “Kampus Aman, Bangsa Kuat: Mengenali, Mencegah, dan Menghadapi Kekerasan Seksual dengan Kesadaran Psikologis”.
- Dominggus Malle dengan materi “Literasi Akademik di Era Digital: Modal Mahasiswa untuk Bersaing di Dunia Global”.
Materi-materi tersebut dirancang untuk membentuk ketahanan pribadi sekaligus meningkatkan kapasitas akademik mahasiswa dalam menghadapi tuntutan pendidikan tinggi.
Kegiatan resmi ditutup dengan malam keakraban dan api unggun sebagai simbol semangat persatuan, perjuangan, dan komitmen mahasiswa untuk kembali ke daerah masing-masing membawa perubahan positif. Tradisi simbolik tersebut menjadi penanda akhir rangkaian pembinaan sekaligus awal perjalanan akademik mereka yang baru. (BM31)









