Masohi,
| Kepala Sekolah SD Negeri 347 Maluku Tengah, Ilyas Tomu, diduga melontarkan kata-kata kasar dan penghinaan kepada sejumlah guru setelah beredar unggahan di media sosial yang mengkritik hasil penilaian kinerja di sekolah tersebut.
Kepala Sekolah SD Negeri (SDN) 347 Maluku Tengah, Ilyas Tomu, diduga mengeluarkan kata-kata tidak pantas berupa cacian dan makian kepada beberapa guru bawahannya. Dugaan itu mencuat setelah muncul unggahan di media sosial yang mengkritik proses penilaian kinerja yang dinilai tidak objektif dan tidak sesuai prinsip kepemimpinan.
Informasi yang dihimpun media ini dari sumber internal yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebutkan, pihak sekolah telah melaksanakan penilaian kinerja terhadap seluruh guru. Dalam proses tersebut, sebagian guru memperoleh nilai baik, sementara empat guru lainnya mendapatkan penilaian buruk hingga ditandai “merah” atau tidak valid.
Menurut sumber, keempat guru tersebut telah menjalankan tugas sesuai standar dan indikator e-Kinerja yang berlaku. Namun, hasil penilaian yang dinilai tidak proporsional memicu kritik di media sosial yang diduga menyentil kebijakan kepala sekolah.
Alih-alih memanggil para guru untuk melakukan klarifikasi, pembinaan, atau evaluasi sesuai prosedur, Ilyas Tomu justru disebut bereaksi emosional. Sumber menyatakan, kepala sekolah diduga melontarkan kata-kata penghinaan seperti “biadab”, “binatang”, serta makian lain kepada sejumlah guru, termasuk mereka yang mempertanyakan kebijakan penilaian.
“Sebagai pimpinan, seharusnya beliau melakukan pembinaan dan dialog. Bukan mencaci maki,” ujar sumber.
Akibat insiden tersebut, hubungan antara kepala sekolah dan sebagian guru di SDN 347 Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, dikabarkan memburuk dan tidak lagi harmonis. Sikap itu dinilai bertentangan dengan etika kepemimpinan dan profesionalisme aparatur pendidikan.
Sumber juga meminta Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, untuk memanggil dan mengevaluasi kinerja Ilyas Tomu serta meminta pertanggungjawaban atas dugaan ujaran tidak pantas tersebut. Selain itu, sumber berharap ada teguran resmi agar kejadian serupa tidak terulang dan iklim kerja di sekolah kembali kondusif.
Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah dan Dinas Pendidikan setempat belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tersebut. (BM31-02)





