BM31News
BM31News
BM31News
BM31News

Perjamuan Kudus Oikumene, Ketua Majelis Jemaat GPM Kezia Tekankan Kristus sebagai Sumber Kehidupan

Khotbah Perjamuan Kudus mengajak jemaat menghayati kasih Kristus melalui pengampunan, kerendahan hati, persekutuan, dan kepedulian terhadap sesama.

Ambon, | Ketua Majelis Jemaat GPM Kezia, Pendeta Vonny Pattileamonia, menekankan pentingnya menempatkan Yesus Kristus sebagai sumber kehidupan sekaligus mewujudkan kasih dalam hubungan dengan sesama. Pesan tersebut disampaikan dalam khotbah pada Ibadah Perjamuan Kudus Oikumene Sedunia di Gedung Gereja Jemaat GPM Kezia, Klasis Pulau Ambon, Minggu pagi (4/10/2026).

Pelayanan firman dalam ibadah tersebut berangkat dari Injil Yohanes 6:48-59, yang memuat pernyataan Yesus tentang diri-Nya sebagai “roti hidup”. Pattileamonia menjelaskan bahwa pernyataan tersebut tidak dapat dilepaskan dari konteks komunitas Yohanes yang menghadapi berbagai tantangan, termasuk perdebatan mengenai identitas Yesus sebagai Anak Allah yang sungguh-sungguh menjadi manusia.

Menurutnya, istilah “roti hidup” menegaskan identitas ilahi Yesus sebagai Penyelamat. Ia membedakan roti yang berasal dari surga dengan manna yang diterima nenek moyang bangsa Israel, karena manna hanya memenuhi kebutuhan fisik dan bersifat sementara, sedangkan Kristus memberikan kehidupan yang kekal.

“Akulah roti hidup yang diterima dari surga yang memberi kehidupan kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya,” kata Ketua Majelis Jemaat GPM Kezia, Vonny Pattileamonia, mengutip inti pengajaran Yesus dalam Yohanes 6.

Ia juga menjelaskan penggunaan metafor “makan daging” dan “minum darah” dalam bagian tersebut. Menurutnya, ungkapan itu menunjukkan relasi dan penyerahan diri secara total kepada Kristus, bukan sekadar pemahaman intelektual atau pengalaman emosional maupun ritual keagamaan.

Pattileamonia menegaskan bahwa Perjamuan Kudus tidak boleh berhenti sebagai tradisi keagamaan. Perayaan tersebut harus mendorong umat untuk menghadirkan kasih Kristus melalui sikap saling menghidupkan, memberi, mengasihi, mengampuni, berbagi, berkorban, dan merendahkan diri.

“Kalau tidak ada kasih di antara kita, percuma. Kalau tidak ada pengampunan di antara kita, percuma. Kalau tidak ada hidup berbagi di antara kita, percuma. Kalau tidak ada kerendahan hati, percuma semua yang kita lakukan,” ujarnya.

Ia menambahkan, menerima roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus juga mengandung makna membangun persekutuan. Persekutuan tersebut tidak hanya menghubungkan umat dengan Kristus, tetapi juga menuntut hubungan yang baik antarsesama sebagai bagian dari tubuh Kristus.

Dalam khotbahnya, ia mengingatkan jemaat terhadap berbagai “tawaran roti hidup” dalam kehidupan modern, seperti teknologi, jabatan, kekuasaan, dan harta. Menurutnya, seluruh hal tersebut memiliki sifat sementara sehingga tidak boleh menggantikan posisi Kristus sebagai sumber kehidupan dan keselamatan.

“Yang harus menjadi penting dalam hidup kita, kita menjadikan Yesus sebagai sumber kehidupan,” kata Pattileamonia.

Pada bagian akhir, ia mengajak jemaat membangun relasi yang baik dengan Allah melalui Yesus, dengan sesama, serta dengan alam ciptaan-Nya. Ia berharap perayaan Perjamuan Kudus Oikumene tidak hanya selesai dalam ritual ibadah, tetapi menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan umat setelah kembali ke lingkungan masing-masing.(BM31)

📢 Ikuti BM31News untuk dapatkan berita terbaru
⚠️ DISCLAIMER: Konten BM31News.com dilindungi undang-undang. Dilarang mengutip, menyalin, memuat ulang sebagian atau seluruh isi artikel ini dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari redaksi BM31News.com.
BM31News

Hak Cipta BM31News. Dilindungi undang-undang.

error: Konten Dilindungi !