Ambon,
– Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon terus menegaskan peran strategisnya dalam membentuk sumber daya manusia unggul di bidang sains dan teknologi. Tahun ini, fakultas tersebut resmi membuka dua program studi baru, yaitu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta Rekayasa Instrumentasi dan Otomasi. Kehadiran dua prodi ini langsung mencuri perhatian dan mencatat jumlah pendaftar yang tinggi, khususnya pada jalur Mandiri.
Dekan FST Unpatti, Henry J. Wattimanela, mengonfirmasi bahwa minat calon mahasiswa terhadap dua program studi anyar ini sangat besar, melebihi ekspektasi awal fakultas.
“Dua prodi baru yakni Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta Rekayasa Instrumentasi dan Otomasi mendapat respons positif. Prodi K3 mencatat jumlah pendaftar tertinggi untuk tahun akademik 2025-2026,” kata Dekan FST Unpatti, Henry Wattimanela.
Prodi K3 sendiri menjadi primadona dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru, bahkan kuotanya telah melebihi batas awal yang ditetapkan. Hal ini memaksa pihak fakultas melakukan pengendalian kuota secara ketat, khususnya untuk jalur Mandiri 2 yang akhirnya ditutup lebih awal.
“Prodi yang jalur Mandiri 2 ditutup. Prodi seperti K3 dan Rekayasa Instrumentasi bahkan sudah melebihi kuota awal karena tingginya minat,” ujarnya kepada media, dikutip dari Patrolinews.id, Sabtu (5/7/2025).
FST Unpatti saat ini membawahi sebelas program studi aktif, terdiri dari Matematika, Kimia, Fisika, Biologi, Statistika, Ilmu Komputer, Bioteknologi, Sains Biomedis, Farmasi, serta dua prodi terbaru. Jumlah mahasiswa aktif mencapai lebih dari 1.400 orang, dan diprediksi akan menembus 2.000 mahasiswa pada tahun akademik mendatang.
Dalam hal sumber daya pengajar, FST didukung oleh sekitar 134 dosen aktif dari berbagai disiplin ilmu. Fakultas ini juga telah menjaring sekitar 300 mahasiswa baru dari jalur SNBP, SNBT, dan Mandiri 1.
Tidak hanya fokus pada kuantitas, FST Unpatti juga menekankan pentingnya kualitas dalam penyelenggaraan pendidikan. Salah satu prioritas utama adalah penguatan riset, pengabdian masyarakat, dan publikasi ilmiah.
“Kami dorong dosen dan mahasiswa untuk menghasilkan riset yang berdampak dan publikasi di jurnal bereputasi seperti Scopus atau SINTA,” tegas Henry Wattimanela.
Langkah ini selaras dengan arah kebijakan nasional pendidikan tinggi yang menuntut keterlibatan aktif sivitas akademika dalam memproduksi pengetahuan baru dan memberi solusi atas persoalan riil masyarakat, terutama di wilayah kepulauan seperti Maluku.
Penguatan riset juga diharapkan mampu meningkatkan posisi fakultas di tingkat nasional dan internasional. Dengan reputasi akademik yang terbangun, lulusan FST Unpatti diharapkan dapat bersaing secara global.
“Kami ingin mencetak lulusan unggul, yang mampu bersaing secara global, namun tetap memberi kontribusi nyata bagi masyarakat lokal di Maluku,” pungkasnya.
Secara keseluruhan, pengembangan dua prodi baru di FST Unpatti merupakan langkah progresif dalam merespons kebutuhan pasar kerja dan dinamika industri masa depan. Fokus pada bidang keselamatan kerja dan otomasi menunjukkan arah strategis fakultas untuk menyelaraskan kurikulum dengan tantangan Revolusi Industri 4.0 dan pembangunan berkelanjutan.
Dengan antusiasme pendaftar yang tinggi, upaya menjaga kualitas akademik, serta komitmen pada penguatan riset dan pengabdian, FST Unpatti semakin menegaskan diri sebagai salah satu kekuatan pendidikan sains dan teknologi di kawasan timur Indonesia. (BM31)







