Namrole,
– Pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Maluku terus memperkuat upaya pencegahan stunting dengan menyalurkan Makanan Bergizi Gratis (MBG) secara langsung kepada kelompok sasaran rentan di wilayah-wilayah terpencil. Salah satu bentuk konkret komitmen itu ditunjukkan lewat kunjungan kerja Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku, Mauliwaty Bulo ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kamlanglale, Kecamatan Namrole, Kabupaten Buru Selatan, pada Kamis (10/7/2025).
Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk memantau langsung proses distribusi MBG kepada kelompok non-peserta didik atau yang disebut kelompok B3, yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.
“Kami bersyukur, distribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk sasaran non-peserta didik yaitu kelompok B3 sudah mulai sejak tanggal 23 Juni lalu. Kita semua ingin memastikan keluarga-keluarga ini tidak tertinggal dalam pemenuhan gizi,” kata Kepala BKKBN Maluku, Mauliwaty Bulo.
Program MBG sendiri menyasar dua kategori utama penerima manfaat, yaitu peserta didik dan non-peserta didik. Untuk kelompok peserta didik di Buru Selatan, tercatat 6.194 siswa telah menerima manfaat dari dua dapur layanan gizi, yakni SPPG Kamlanglale (3.227 siswa dari 18 satuan pendidikan) dan SPPG Wali (2.967 siswa dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK).
Sementara itu, untuk kelompok B3 di wilayah dapur Kamlanglale, terdapat 245 penerima manfaat. Mereka tersebar di beberapa desa, termasuk Fatmite, Waenono, Lektama, Kamlanglale, Labuang, serta Elfule Atas dan Elfule Bawah. Rincian penerima manfaat mencakup balita, bayi, ibu hamil, dan ibu menyusui.
“Untuk sasaran non-peserta didik atau kelompok B3 sendiri di angka 245 sasaran, khusus untuk di dapur Kamlanglale sini,” ungkap Kepala SPPG Namrole, Atika Suri Jamlean.
Di luar wilayah Kamlanglale, dapur gizi SPPG Wali juga melayani 162 penerima manfaat kelompok B3 yang tersebar di Masnana, Wali, Wamsoba, dan Waefusi.
Makanan yang diberikan disiapkan berdasarkan standar gizi nasional. Setiap hari, makanan tersebut dikemas dan didistribusikan ke titik kumpul yang telah disepakati, lalu para kader akan mengantarkan langsung ke rumah-rumah penerima manfaat.
Tak jarang, medan berat menjadi tantangan tersendiri. Jalan berlumpur, tanjakan berbatu, dan gang sempit kerap kali harus dilalui para kader untuk menjangkau keluarga sasaran. Namun semangat gotong royong dan tanggung jawab sosial membuat proses ini berjalan tanpa keluhan.
“Melalui SPPG ini, kita bantu keluarga yang rentan stunting. Tidak hanya dari sisi pemenuhan makanan bergizi, tapi juga memberi perhatian langsung ke mereka. Ini bentuk kehadiran negara,” tutup Mauliwaty.
Kunjungan kerja ini menjadi bukti bahwa negara tidak hanya hadir dalam bentuk kebijakan, tetapi juga melalui aksi nyata yang menyentuh rumah-rumah warga di pelosok. Program MBG bukan sekadar pemberian makanan, melainkan bagian dari upaya menyelamatkan masa depan anak-anak dari ancaman stunting kronis.
Hujan yang mengguyur semalam meninggalkan genangan air di sepanjang jalan tanah penghubung desa-desa di Namrole. Namun pagi itu, kabut tipis dan dingin perbukitan tidak menyurutkan semangat para kader, petugas dapur, dan ibu-ibu penerima manfaat.
Dari dapur kecil di Kamlanglale dan Wali, makanan bergizi disiapkan dan dikirim, membawa harapan dan kehidupan yang lebih baik bagi generasi masa depan Buru Selatan. Sebuah langkah kecil yang bermakna besar dalam perang panjang melawan stunting. (BM31)







