Ambon,
| Rektor Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon mendorong Forum Komunikasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FORKOM FKIP) se-Indonesia mengambil peran strategis dalam meningkatkan mutu guru, memperkuat kebijakan pendidikan nasional, serta merespons perkembangan teknologi, khususnya pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran.
Dorongan tersebut disampaikan Rektor Unpatti dalam sambutannya pada rangkaian kegiatan FORKOM FKIP se-Indonesia di Ambon, Maluku. Kegiatan yang mengusung tema “Baku Kele Toma Maju: Harmoni dalam Keberagaman” itu menjadi ruang kolaborasi bagi pimpinan FKIP dari berbagai perguruan tinggi untuk memperkuat kualitas pendidikan dan tenaga pendidik di Indonesia.
Rektor menegaskan, peningkatan mutu guru harus dimulai dari penguatan kualitas lembaga pendidikan tenaga kependidikan, terutama melalui peningkatan kompetensi dosen dalam menyusun kurikulum, melaksanakan proses pembelajaran, serta mengembangkan sistem evaluasi pendidikan yang berkualitas.
Menurutnya, kualitas program studi menjadi salah satu indikator penting dalam memastikan perguruan tinggi mampu menghasilkan lulusan pendidikan yang kompeten. Karena itu, pencapaian akreditasi unggul harus menjadi perhatian bersama seluruh FKIP di Indonesia.
Ia menjelaskan, FKIP Unpatti saat ini memiliki 19 program studi, terdiri atas 18 program sarjana dan satu program profesi. Di bawah kepemimpinan Dekan FKIP, Unpatti terus mendorong peningkatan status akreditasi program studi sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas institusi.
Rektor juga menyampaikan bahwa Unpatti telah mencapai 11 program studi berstatus unggul dan terus mengupayakan peningkatan kualitas melalui proses akreditasi nasional maupun internasional. Sebanyak 13 program studi dijadwalkan mengikuti asesmen akreditasi internasional melalui lembaga FIBAA pada 20–26 November 2026, sementara lima program studi lainnya masih menjadi bagian dari agenda pengembangan berikutnya.
“Kerja sama forum ini salah satu aspek yang paling penting adalah saling membantu untuk meningkatkan akreditasi,” ungkapnya.
Selain penguatan mutu akademik, Rektor Unpatti menekankan pentingnya membangun jejaring antarfakultas untuk mendukung kebijakan pemerintah di bidang pendidikan. Menurutnya, tanggung jawab perguruan tinggi tidak berhenti pada menghasilkan sarjana pendidikan, tetapi juga memastikan lulusan memiliki kompetensi profesional melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Ia berpandangan, perguruan tinggi harus ikut mengawal keberlanjutan kualitas guru setelah menyelesaikan pendidikan sarjana maupun profesi. Pengawalan tersebut diperlukan agar guru di jenjang pendidikan dasar, menengah, hingga kejuruan memperoleh dukungan peningkatan kompetensi secara berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, Rektor Unpatti juga mendorong penguatan hubungan antara FORKOM FKIP dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Menurutnya, kolaborasi kedua organisasi penting karena guru yang tergabung dalam PGRI merupakan bagian dari sumber daya manusia yang dihasilkan lembaga pendidikan tenaga kependidikan.
“PGRI itu adalah kumpulan dari para guru yang mereka juga adalah output daripada kita. Sehingga hubungan FORKOM mungkin dengan PGRI ini perlu juga digagas,” katanya.
Fokus ketiga yang disampaikan Rektor adalah kesiapan lembaga pendidikan menghadapi perkembangan teknologi yang semakin cepat, terutama penggunaan AI dalam proses pembelajaran. Ia menilai, pemanfaatan teknologi harus diikuti dengan penyesuaian kurikulum, metodologi pembelajaran, serta sistem evaluasi terhadap kemampuan peserta didik.
Menurutnya, perkembangan teknologi menuntut FKIP untuk terus memperbarui pendekatan pendidikan agar proses pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Karena itu, kolaborasi antarfakultas diperlukan untuk menghasilkan gagasan dan strategi yang mampu menjawab tantangan pendidikan nasional.
Melalui tiga agenda tersebut, Rektor berharap FORKOM FKIP se-Indonesia tidak hanya menjadi wadah komunikasi antarpimpinan fakultas, tetapi juga berkembang menjadi kekuatan kolaboratif dalam memperbaiki kualitas pendidikan, memperkuat profesionalisme guru, serta mendorong kemajuan pendidikan Indonesia.
Ia juga mengajak seluruh peserta menjadikan semangat Hotumesse sebagai pengingat pentingnya persaudaraan, kebersamaan, dan tekad untuk terus maju. Semangat tersebut sejalan dengan tema kegiatan yang mengedepankan nilai saling menopang dan membantu dalam membangun harmoni di tengah keberagaman.(BM31-01)



