BM31News
BM31News
BM31News
BM31News BM31News

KKN Berdampak Unpatti Fokus Data Desa dan Pencegahan Karhutla

Mahasiswa KKN Unpatti Angkatan LIII Gelombang I ditempatkan di Waesamu, Nuruwe, Kamal, dan Waisarisa dengan fokus penguatan data desa serta edukasi pencegahan karhutla.

Ambon, | Universitas Pattimura (Unpatti) menempatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan LIII Gelombang I Tahun Akademik 2026/2027 di empat desa di Kecamatan Kairatu Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, pada Kamis (15/10/2026). Melalui tema “Membangun Desa melalui KKN Berdampak”, program ini diarahkan untuk memperkuat tata kelola desa, meningkatkan kualitas basis data, serta mendorong kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan tanpa pembakaran terbuka.

Empat desa yang menjadi lokasi penempatan mahasiswa adalah Desa Waesamu, Desa Nuruwe, Desa Kamal, dan Desa Waisarisa. Kedatangan mahasiswa di setiap lokasi diterima langsung oleh pemerintah desa setempat sebagai bagian dari pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat.

Program KKN Angkatan LIII Gelombang I berada di bawah koordinasi Ketua Pengelola KKN Unpatti, Jusuf Leiwakabessy. Pelaksanaannya menekankan program yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan mahasiswa, tetapi juga diharapkan menghasilkan manfaat nyata bagi kebutuhan dan pembangunan desa.

Dosen Pendamping Lapangan (DPL), Meigy Nelce Mailoa menjelaskan bahwa pelaksanaan KKN Berdampak di empat desa tersebut berfokus pada program prioritas, program utama, dan program pendamping. Seluruh kegiatan dirancang dengan mempertimbangkan potensi serta permasalahan nyata yang ditemukan di lapangan.

Dua program prioritas yang disiapkan ialah Desa Data Week dan Desa Bebas Bakar. Keduanya menyasar persoalan berbeda, tetapi saling berkaitan dalam upaya memperkuat kapasitas pemerintahan desa dan mendorong keterlibatan masyarakat dalam pembangunan serta perlindungan lingkungan.

BM31News BM31News BM31News BM31News BM31News BM31News BM31News

Desa Data Week menjadi tahap awal yang wajib dilaksanakan mahasiswa sebelum menjalankan program prioritas lainnya, program utama, dan program pendamping. Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat ketersediaan data dan informasi desa sebagai dasar dalam mengenali kebutuhan masyarakat serta menentukan prioritas pembangunan.

Pelaksanaan Desa Data Week menggunakan alur kerja sistematis yang terdiri atas lima tahapan, yakni Data, Design, Action, Impact, dan Publication. Pendekatan ini menempatkan pengumpulan serta pengolahan data sebagai dasar perencanaan kegiatan, pelaksanaan program, pengukuran dampak, dan penyampaian hasil kepada publik.

Selama tujuh hari, mahasiswa menjalankan rangkaian kegiatan yang meliputi mengenali desa, mendengarkan masyarakat, mendiskusikan prioritas, menganalisis data, merancang program, menulis artikel, dan mempresentasikan temuan. Rangkaian tersebut diharapkan membantu mahasiswa memahami kondisi desa secara langsung sebelum menentukan bentuk intervensi yang sesuai.

Ketersediaan data yang akurat diharapkan dapat membantu pemerintah desa mengidentifikasi kebutuhan warga, memetakan potensi lokal, dan menetapkan prioritas pembangunan secara lebih tepat sasaran. Dengan demikian, program yang dijalankan tidak semata-mata berdasarkan perencanaan mahasiswa, tetapi juga mempertimbangkan informasi dan kebutuhan masyarakat setempat.

Sementara itu, program Desa Bebas Bakar disiapkan untuk merespons persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Program ini menitikberatkan edukasi serta peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan tanpa pembakaran terbuka.

Pelaksanaan program tersebut melibatkan pemerintah desa, tokoh masyarakat, pemuda, dan berbagai elemen warga. Pelibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk mendukung penerimaan program sekaligus mendorong keberlanjutan kegiatan setelah masa pengabdian mahasiswa berakhir.

Melalui KKN Berdampak, Unpatti menargetkan kontribusi mahasiswa terhadap peningkatan kualitas tata kelola desa, kesadaran lingkungan, partisipasi publik, dan penguatan kapasitas lokal. Namun, capaian program tersebut akan bergantung pada pelaksanaan di lapangan, keterlibatan masyarakat, serta keberlanjutan tindak lanjut oleh pemerintah desa dan pihak terkait.

Program di Waesamu, Nuruwe, Kamal, dan Waisarisa tersebut menempatkan penguatan data desa dan edukasi pencegahan karhutla sebagai dua agenda prioritas. Pelaksanaan keduanya diharapkan menjadi pijakan bagi kegiatan pengabdian yang lebih terarah, sesuai kebutuhan masyarakat, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi pembangunan desa.(BM31)

📢 Ikuti BM31News untuk dapatkan berita terbaru
⚠️ DISCLAIMER: Konten BM31News.com dilindungi undang-undang. Dilarang mengutip, menyalin, memuat ulang sebagian atau seluruh isi artikel ini dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari redaksi BM31News.com.

Hak Cipta BM31News. Dilindungi undang-undang.

error: Konten Dilindungi !