Ambon,
| Puluhan penumpang Batik Air rute Jakarta-Ambon-Nabire mengaku tertahan di Bandara Pattimura Ambon, Maluku, setelah penerbangan lanjutan menuju Nabire dibatalkan dengan alasan kondisi cuaca dan kabut asap. Penumpang menyebut mereka belum memperoleh kepastian fasilitas akomodasi dan konsumsi selama menunggu penerbangan pengganti yang dijadwalkan pada Kamis (8/10/2026).
Kondisi tersebut setidaknya dialami dua kelompok penumpang dengan jumlah keseluruhan diperkirakan 50 hingga 60 orang. Kelompok pertama tiba di Ambon pada Minggu (4/10/2026), sedangkan kelompok kedua tiba pada Selasa (6/10/2026).
Kelompok pertama diketahui melakukan perjalanan dari Surabaya melalui Makassar dan Ambon sebelum melanjutkan perjalanan ke Nabire. Menurut penumpang, sistem pemesanan tiket menunjukkan perjalanan hingga Nabire, tetapi setelah tiba di Ambon mereka mengetahui tidak tersedia penerbangan lanjutan ke Nabire pada hari tersebut.
Pihak maskapai kemudian disebut menyediakan penginapan selama dua hari di hotel sekitar Bandara Pattimura bagi kelompok pertama. Namun, penumpang mengaku fasilitas tersebut hanya mencakup tempat tinggal dan tidak disertai kebutuhan makan serta minum.
Setelah masa akomodasi berakhir, sebagian penumpang memilih bertahan di Bandara Pattimura. Mereka menggunakan ruang tunggu di lantai dua sebagai tempat beristirahat, termasuk bersama anak-anak dan penumpang lanjut usia.
Sementara itu, kelompok kedua yang tiba pada Selasa (6/10/2026) mengaku penerbangan Ambon-Nabire dibatalkan. Maskapai kemudian menjadwalkan ulang penerbangan tersebut ke Kamis (8/10/2026), dengan alasan kondisi cuaca dan kabut asap di wilayah Papua.
Penumpang mengaku telah mempertanyakan fasilitas selama masa penundaan. Namun, hingga informasi ini diperoleh, mereka menyebut belum mendapatkan akomodasi, konsumsi, maupun bentuk kompensasi lanjutan.
“Kami berharap ada perhatian dari maskapai, terutama karena di antara penumpang ada anak kecil, ibu-ibu, orang tua dan masyarakat yang ekonominya pas-pasan,” ujar salah seorang penumpang.
Menurut penumpang, sebagian masyarakat tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk menanggung biaya tambahan selama harus menunggu penerbangan pengganti. Kondisi itu membuat mereka memilih bertahan di area bandara karena tidak memiliki tempat lain untuk menunggu.
Penumpang juga mempertanyakan penanganan di Bandara Pattimura. Mereka menyebut persoalan tersebut diarahkan kepada pihak maskapai, sementara maskapai tetap menyampaikan alasan force majeure akibat kondisi cuaca dan kabut asap.
Persoalan lain yang dipertanyakan adalah informasi mengenai sejumlah penerbangan lain yang disebut masih dapat mendarat di Nabire pada waktu yang berdekatan. Penumpang menyebut adanya pesawat Sriwijaya serta sejumlah pesawat ATR dari Timika dan Jayapura yang disebut dapat mendarat di Nabire.
Namun, informasi mengenai penerbangan tersebut masih sebatas keterangan dari penumpang. Hingga berita ini disusun, belum diperoleh konfirmasi dari Batik Air maupun otoritas penerbangan mengenai kondisi teknis yang menyebabkan penerbangan Batik Air menuju Nabire dibatalkan.
“Kami sudah rugi waktu, pekerjaan dan waktu bersama keluarga. Yang kami minta adalah bagaimana pemerintah dan maskapai mengambil kebijakan agar kami yang sudah terlantar ini bisa diamankan dan diberangkatkan secepatnya,” kata penumpang tersebut.
GAMKI Maluku Minta Pemerintah dan Maskapai Hadir
Ketua DPD GAMKI Provinsi Maluku, Samuel Patra Ritiauw, meminta maskapai, pemerintah, pemerintah daerah, serta pengelola bandara mengambil langkah konkret untuk menangani kondisi para penumpang.
Samuel menilai aspek kemanusiaan perlu menjadi perhatian, terutama karena terdapat anak-anak, orang tua, serta penumpang yang memiliki keterbatasan kemampuan ekonomi.
“DPD GAMKI Provinsi Maluku merasa prihatin atas masalah yang menimpa saudara-saudara yang akan melakukan perjalanan menuju Nabire. Karena itu, atas dasar prinsip kemanusiaan, kami meminta pemerintah dan pemerintah daerah, pertama kepada maskapai, untuk segera mengambil langkah-langkah kemanusiaan,” tegas Samuel.
Ia mengatakan penumpang tidak seharusnya dibiarkan menghadapi kebutuhan dasar sendiri ketika penerbangan mengalami penundaan berhari-hari.
“Kalau sampai dengan sekarang maskapai masih lepas tangan, maka pemerintah harus hadir karena ini bagian daripada bencana sosial. Tanggung jawab pemerintah harus hadir di sini untuk melihat masalah ini juga,” katanya.
Samuel juga meminta pemerintah daerah menunjukkan kepedulian terhadap kondisi penumpang dan mendorong maskapai memberikan solusi konkret. Menurut dia, penyelesaian diperlukan agar persoalan tersebut tidak berkembang menjadi masalah baru di Bandara Pattimura.
“Walaupun mereka bukan orang Ambon, tetapi mereka senasib, sebangsa dan setanah air. Karena itu, prinsip-prinsip kemanusiaan harus dikedepankan,” tegas Samuel.
Para penumpang kini berharap penerbangan pengganti pada Kamis (8/10/2026) dapat berjalan sesuai jadwal dan memberikan prioritas kepada mereka yang telah mengalami penundaan selama beberapa hari. Kepastian mengenai alasan teknis pembatalan, fasilitas bagi penumpang, serta penanganan lanjutan masih menunggu penjelasan resmi dari pihak maskapai dan otoritas terkait.(BM31)






