Bula-SBT,
| Krisis air bersih yang kembali melanda Negeri Lahema, Kecamatan Wakate, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), mendorong Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku mengubah pendekatan penanganan dari bantuan darurat menuju pencarian solusi permanen. Setelah menyalurkan 1.185 liter air minum kepada warga terdampak pada 17 Agustus 2026, BWS memastikan akan mengirim tim survei untuk mendeteksi sumber air tanah sebagai dasar pembangunan infrastruktur air bersih.
Distribusi bantuan dilakukan setelah kemarau panjang menyebabkan warga Lahema mengalami kesulitan memperoleh air layak konsumsi selama beberapa pekan terakhir. Sebanyak 687 jiwa atau 162 kepala keluarga (KK) menjadi sasaran bantuan di desa yang masuk kategori wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) tersebut.
Bantuan mulai dimobilisasi pada Minggu malam, 16 Agustus 2026, melalui perjalanan darat yang dilanjutkan dengan penyeberangan laut menuju Lahema. Proses pengiriman tidak berlangsung mudah karena tim harus melewati beberapa tahap bongkar-muat serta menghadapi angin kencang dan gelombang tinggi selama perjalanan.
Meski terkendala cuaca dan keterbatasan jaringan telekomunikasi, seluruh bantuan berhasil disalurkan sesuai rencana pada Senin, 17 Agustus 2026. Paket bantuan terdiri atas 125 karton air minum kemasan gelas Ayudes, 25 karton Aqua botol sedang, dan tujuh galon Le Minerale berkapasitas 15 liter dengan total volume mencapai 1.185 liter.
Namun, bagi BWS Maluku, distribusi air hanya menjadi langkah awal. Persoalan utama yang ingin dipecahkan adalah siklus kekeringan yang hampir selalu berulang setiap musim kemarau di Lahema.
“Pembagian air mineral kemasan ini merupakan respons atas bencana krisis air bersih yang dialami warga di desa tersebut sejak beberapa pekan terakhir ini,” kata Kepala BWS Maluku, Ruslan Malik.
Ruslan menegaskan lembaganya tidak ingin masyarakat terus bergantung pada bantuan air setiap tahun. Karena itu, BWS akan memulai survei hidrogeologi untuk mengidentifikasi potensi sumber air tanah sekaligus menentukan jenis infrastruktur yang paling tepat dibangun di wilayah tersebut.
“BWS akan mengirim tim survei untuk mendeteksi sumber air tanah dan langkah apa yang harus dibangun untuk mengatasi masalah krisis air yang sudah hampir terjadi setiap tahun,” kata Ruslan Malik.
Rencana tersebut menjadi perkembangan penting dalam penanganan krisis air di Seram Bagian Timur. Selama ini, distribusi air bersih lebih banyak dilakukan sebagai respons darurat ketika kemarau mencapai puncaknya, sementara penyediaan sumber air permanen masih menjadi tantangan di sejumlah desa terpencil.
Kondisi geografis Lahema turut memperumit penanganan. Akses menuju desa memerlukan kombinasi perjalanan darat dan laut, sehingga setiap distribusi logistik membutuhkan waktu lebih lama, biaya lebih besar, serta bergantung pada kondisi cuaca yang sering berubah.
Krisis air di Lahema juga bukan kasus yang berdiri sendiri. Pada pertengahan Juli 2026, BWS Maluku telah menyalurkan sedikitnya 8.000 liter air bersih ke lima titik permukiman di wilayah Bula dan sekitarnya, termasuk Dusun Teluk Desa Engglas, Garuda Mas Desa Wailola, Kelapa Dua, dan Kelapa Dua Puncak. Data tersebut menunjukkan bahwa dampak kemarau di SBT memiliki cakupan yang lebih luas daripada satu desa.
Pemerintah Negeri Lahema menyambut baik langkah cepat pemerintah pusat melalui BWS Maluku. Warga menilai bantuan tersebut setidaknya mampu memenuhi kebutuhan air minum dalam beberapa hari sambil menunggu penanganan lanjutan.
“Kami mengucapkan terima kasih atas langkah cepat mengatasi krisis air yang dialami oleh masyarakat kami,” kata Sekretaris Desa Lahema, Abdul Rahman Rumatela.
Ke depan, perhatian publik akan tertuju pada hasil survei sumber air yang segera dilakukan BWS Maluku. Jika berhasil menemukan potensi air tanah yang layak dimanfaatkan, Lahema berpeluang keluar dari siklus krisis air musiman yang selama ini membayangi kehidupan ratusan warganya. Sebaliknya, tanpa solusi permanen, distribusi bantuan darurat berisiko terus menjadi pola penanganan yang berulang setiap kemarau datang.(BM31)













