Ambon,
| Universitas Pattimura menjalin kerja sama strategis dengan Happy Green Island dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas melalui pendekatan multidisipliner yang melibatkan pendidikan, riset, dan pemberdayaan masyarakat. Penandatanganan kerja sama yang berlangsung di Ruang Rapat Rektor Universitas Pattimura pada Selasa (7/4/2026) ini menjadi langkah konkret menghadapi kompleksitas persoalan lingkungan di wilayah kepulauan, khususnya dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan, terstruktur, dan adaptif terhadap kearifan lokal.
Kerja sama tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari pengembangan keahlian, pertukaran pengetahuan, inovasi teknologi, hingga penelitian dan pengelolaan lingkungan. Skema ini dirancang tidak hanya sebagai program jangka pendek, tetapi sebagai model integratif yang mampu menjawab tantangan pengelolaan sampah di pulau-pulau kecil yang selama ini terkendala infrastruktur, edukasi, dan koordinasi lintas sektor.
Rektor Universitas Pattimura menegaskan bahwa kolaborasi multipihak menjadi kunci utama dalam membangun sistem pengelolaan lingkungan yang efektif dan berkelanjutan. Selama ini, universitas telah terlibat dalam berbagai program bersama kementerian, lembaga pemerintah, dan organisasi non-pemerintah, namun pendekatan yang terfragmentasi dinilai belum cukup menjawab kompleksitas persoalan di lapangan.
“Kerja sama ini diharapkan dapat menjadi sistem yang terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan, sehingga program yang dijalankan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat,” kata Rektor Universitas Pattimura, Fredy Leiwakabessy.
Happy Green Island, sebagai organisasi yang berfokus pada pengelolaan lingkungan di wilayah kepulauan, membawa pendekatan berbasis komunitas yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama. Program yang dijalankan mencakup pembentukan bank sampah, sistem pengumpulan berbasis rute lokal, serta edukasi kebersihan yang disesuaikan dengan konteks sosial dan budaya setempat.
Direktur sekaligus Founder Happy Green Island menekankan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan secara sektoral. Dibutuhkan integrasi lintas disiplin yang mencakup aspek ekologi, sosial, ekonomi, dan pendidikan.
“Sampah bukan hanya masalah satu fakultas atau satu lembaga, tapi membutuhkan kerja sama lintas sektor,” kata Direktur Happy Green Island, Corneles K. Lafeber.
Secara situasional, wilayah kepulauan seperti Maluku menghadapi tantangan spesifik dalam pengelolaan sampah, mulai dari keterbatasan akses transportasi, rendahnya infrastruktur pengolahan, hingga minimnya kesadaran masyarakat. Kondisi ini menyebabkan penanganan sampah sering kali bersifat sporadis dan tidak berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, kolaborasi Universitas Pattimura dan Happy Green Island menjadi signifikan karena menggabungkan kekuatan akademik dengan pendekatan implementatif berbasis komunitas. Universitas berperan dalam penguatan riset, inovasi, dan edukasi, sementara Happy Green Island bertindak sebagai fasilitator lapangan yang menghubungkan program dengan kebutuhan riil masyarakat.
Model ini juga membuka ruang bagi keterlibatan mahasiswa sebagai agen perubahan melalui program pengabdian masyarakat dan kegiatan lingkungan. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya menjadi isu teknis, tetapi juga bagian dari transformasi sosial dan pendidikan.
Ke depan, kerja sama ini diproyeksikan tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas lingkungan di Ambon dan sekitarnya, tetapi juga berpotensi menjadi model replikasi bagi wilayah kepulauan lain di Indonesia yang menghadapi persoalan serupa. Pendekatan kolaboratif yang terstruktur dinilai mampu menjembatani kesenjangan antara kebijakan, implementasi, dan partisipasi masyarakat. (BM31)







