Ambon,
| Pemilihan Duta Kampus Universitas Pattimura dalam rangka Dies Natalis ke-63 yang digelar di Fakultas Pertanian menjadi instrumen strategis dalam membentuk karakter mahasiswa sekaligus memperkuat representasi global kampus. Kegiatan yang diikuti 42 mahasiswa dari delapan fakultas ini berlangsung melalui serangkaian tahapan seleksi ketat, mulai dari administrasi hingga uji komunikasi dan wawasan, dengan tujuan menjaring figur mahasiswa yang unggul secara akademik, kepemimpinan, dan kapasitas representatif di tingkat nasional maupun internasional.
Pemilihan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan bagian dari desain pembinaan mahasiswa berbasis kompetensi dan karakter. Fakultas Pertanian sebagai tuan rumah memegang peran sentral dalam memastikan seluruh rangkaian kegiatan Dies Natalis berjalan sistematis, termasuk seleksi Duta Kampus yang menjadi salah satu agenda utama.
Sebanyak 42 peserta yang mewakili delapan fakultas disaring melalui proses berlapis. Tahapan dimulai dari seleksi administrasi, wawancara, penilaian bakat, hingga uji pengetahuan umum. Proses ini dirancang untuk mengukur tidak hanya kecerdasan akademik, tetapi juga ketangguhan mental, kemampuan komunikasi, serta kecepatan berpikir dalam situasi dinamis.
“Pemilihan Duta Kampus ini bukan sekadar ajang mencari perwakilan, tetapi juga menjadi proses pembentukan karakter, baik secara intelektual, moral, maupun kepribadian,” kata Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Hubungan Masyarakat, dan Alumni, Nur Aida Kubangun.
Dalam perspektif kelembagaan, Duta Kampus diposisikan sebagai representasi strategis universitas. Mereka diharapkan mampu menjadi wajah institusi dalam berbagai forum, baik lokal, nasional, hingga internasional, sekaligus membawa narasi positif tentang Universitas Pattimura ke ruang publik yang lebih luas.
“Kami berharap adik-adik yang terpilih mampu menjadi duta universitas serta berpartisipasi dalam berbagai forum,” kata Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Hubungan Masyarakat, dan Alumni, Nur Aida Kubangun.
Dari sisi teknis pelaksanaan, panitia menerapkan sistem seleksi yang fleksibel dan kompetitif. Setiap fakultas diberikan kebebasan mengirimkan peserta tanpa batasan kuota, sehingga membuka peluang seleksi berbasis kualitas, bukan representasi kuantitas semata. Tahapan seleksi berlanjut ke metode fishbowl, di mana peserta diuji secara langsung oleh juri melalui pertanyaan acak yang menuntut respons cepat dan argumentasi kuat.
“Penilaian akhir menghasilkan juara 1, 2, dan 3 untuk kategori putra dan putri. Pemenang tidak harus berasal dari fakultas yang sama, karena pasangan Duta Kampus akan dibentuk dari putra dan putri terbaik,” kata penanggung jawab seksi lomba, Sulisiawati Aipassa.
Dari 42 peserta, seleksi mengerucut menjadi 10 pasang, kemudian lima pasang terbaik, hingga akhirnya tiga pasang finalis. Skema ini menunjukkan pendekatan seleksi bertahap yang menitikberatkan pada konsistensi performa peserta di setiap fase kompetisi.
Secara strategis, peran Duta Kampus tidak berhenti pada ajang kompetisi. Mereka akan dilibatkan dalam berbagai aktivitas universitas, seperti pendampingan tamu resmi, keterlibatan dalam event kampus, hingga promosi institusi kepada masyarakat luas. Fungsi ini menempatkan Duta Kampus sebagai agen komunikasi sekaligus duta citra universitas.
Melalui momentum Dies Natalis ke-63, Universitas Pattimura menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan daya saing global. Pemilihan Duta Kampus menjadi salah satu instrumen konkret dalam mewujudkan visi tersebut, yakni melahirkan generasi muda yang berintegritas, adaptif, dan mampu bersaing di tingkat internasional. (BM31)(BM31)





