Ohoidertutu-Malra,
| Tim Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Merangkai Kei Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan program perawatan preventif terhadap Puskesmas Pembantu (Pustu) Ohoidertutu, Kabupaten Maluku Tenggara, pada 20-26 Juli 2026. Program tersebut diwujudkan melalui perbaikan retak rambut pada dinding, pelapisan waterproofing, serta pengecatan ulang bagian eksterior sebagai upaya menjaga keberlanjutan fungsi satu-satunya fasilitas kesehatan tingkat desa itu.
Langkah tersebut berangkat dari kondisi bangunan yang mulai menunjukkan penurunan kualitas akibat paparan cuaca pesisir. Cat lama mengelupas dan retak-retak rambut muncul di sejumlah bagian dinding luar, sehingga diperlukan tindakan pencegahan sebelum kerusakan berkembang lebih jauh dan memerlukan biaya perbaikan yang lebih besar.
Pelaksanaan kegiatan dikoordinasikan oleh anggota Tim KKN Merangkai Kei UGM, Engelbertho Jose Sahasika Yamrewav. Pekerjaan dilakukan secara bertahap, dimulai dari membersihkan permukaan dinding, memperbaiki retakan, mengaplikasikan alkali primer sekaligus waterproofing, hingga pengecatan akhir menggunakan cat eksterior yang dirancang tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem.
“Program ini bukan sekadar mempercantik tampilan bangunan, tetapi juga menjadi upaya menjaga agar Pustu tetap layak digunakan masyarakat dalam jangka panjang,” kata Koordinator Pelaksana Program, Engelbertho Jose Sahasika Yamrewav dalam rilis yang diterima redaksi BM31News pada Jumat (7/8/2026).
Lapisan waterproofing yang diaplikasikan pada tahap kedua menjadi bagian penting dari pendekatan preventif tersebut. Perlindungan terhadap rembesan air dinilai mampu mengurangi risiko kerusakan struktur bangunan yang umumnya terjadi secara bertahap pada fasilitas umum di wilayah pesisir.
Selain memperpanjang usia bangunan, perubahan kondisi fisik Pustu diharapkan memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang memanfaatkan layanan kesehatan. Fasilitas yang terawat juga dapat memperkuat persepsi masyarakat terhadap kebersihan dan kelayakan lingkungan pelayanan kesehatan.
“Harapannya, kepedulian terhadap fasilitas kesehatan desa tidak berhenti ketika program KKN selesai, tetapi terus dilanjutkan melalui perawatan rutin bersama pemerintah ohoi dan masyarakat,” kata Engelbertho.
Program tersebut juga menjadi pengalaman lapangan bagi mahasiswa untuk memahami tantangan pemeliharaan fasilitas publik di kawasan kepulauan. Kondisi geografis dan iklim pesisir menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam menjaga keberlangsungan infrastruktur pelayanan dasar.(BM31)







