Ambon,
| Universitas Pattimura (Unpatti) mendorong Forum Komunikasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FORKOM FKIP) Negeri se-Indonesia bertransformasi dari sekadar forum koordinasi menjadi ekosistem kolaborasi nasional yang mampu mencetak guru profesional dan mewujudkan pendidikan tinggi berdampak. Komitmen tersebut disampaikan Rektor Universitas Pattimura saat membuka Launching Virtual FORKOM FKIP Negeri se-Indonesia bertema “Bakukele Toma Maju: Harmony in Diversity” yang digelar secara daring dari Aula Rektorat Universitas Pattimura, Ambon, pada Selasa (7/7/2026).
Rektor Universitas Pattimura, Fredy Leiwakabessy, menegaskan bahwa perubahan paradigma pendidikan tinggi saat ini tidak lagi bertumpu pada persaingan antarkampus, melainkan pada penguatan kolaborasi untuk menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat. Menurutnya, arah tersebut selaras dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang mendorong lahirnya pendidikan tinggi berdampak (impactful higher education).
“Perkembangan pendidikan tinggi saat ini menuntut perubahan paradigma, dari kompetisi menuju kolaborasi. Kehadiran FORKOM FKIP se-Indonesia diharapkan menjadi wadah strategis untuk memperkuat jejaring, membangun kerja sama antarfakultas, serta melahirkan berbagai gagasan inovatif yang mampu menjawab tantangan pendidikan nasional,” kata Rektor, Fredy Leiwakabessy.
Ia menilai kualitas sumber daya manusia Indonesia sangat bergantung pada mutu pendidikan, sehingga lembaga pendidikan tenaga kependidikan memikul tanggung jawab besar dalam menyiapkan guru yang kompeten, inovatif, adaptif, dan mampu menjawab perubahan zaman. Karena itu, penguatan jejaring antarfakultas dinilai menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan kualitas lulusan pendidikan guru di tingkat nasional.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum FORKOM FKIP Negeri se-Indonesia, Imam Sujadi, yang mengikuti kegiatan melalui aplikasi Zoom. Ia mengatakan FORKOM FKIP perlu berkembang menjadi ekosistem kolaborasi nasional yang menghasilkan program bersama, bukan hanya menjadi ruang koordinasi antarpimpinan fakultas.
“FORKOM FKIP perlu terus bertransformasi, tidak sekadar menjadi forum koordinasi antarpimpinan fakultas, tetapi berkembang sebagai ekosistem kolaborasi nasional yang mampu menghasilkan berbagai program bersama yang berdampak bagi peningkatan mutu pendidikan tinggi,” kata Ketua Umum FORKOM FKIP Negeri se-Indonesia, Imam Sujadi.
Menurut Imam, ruang kolaborasi tersebut mencakup penguatan riset bersama, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran dosen dan mahasiswa, pengembangan inovasi pembelajaran, hingga perluasan kemitraan dengan berbagai institusi nasional maupun internasional. Program-program tersebut diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan indikator kinerja perguruan tinggi sekaligus memperkuat daya saing lulusan FKIP.
Sementara itu, Dekan FKIP Universitas Pattimura, Izaak H. Wenno, menjelaskan bahwa peluncuran virtual menjadi langkah awal menuju rangkaian kegiatan FORKOM FKIP Negeri se-Indonesia Tahun 2026 yang akan dipusatkan di Ambon. Agenda tersebut akan menghadirkan berbagai kompetisi akademik dan kegiatan ilmiah, seperti lomba debat Bahasa Indonesia, kompetisi vlog, musikalisasi puisi, hingga forum akademik yang melibatkan mahasiswa dan dosen dari berbagai perguruan tinggi.
“Launching virtual ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan berbagai agenda nasional menjelang pertemuan puncak FORKOM FKIP Negeri se-Indonesia di Ambon,” kata Dekan FKIP Universitas Pattimura, Izaak H. Wenno.
Pelaksanaan launching diikuti pimpinan FKIP negeri dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kehadiran mereka menandai dimulainya rangkaian kolaborasi nasional yang diharapkan mampu memperkuat pertukaran gagasan, memperluas jejaring akademik, serta menghasilkan inovasi pendidikan yang berdampak langsung terhadap peningkatan mutu pendidikan nasional.
Transformasi FORKOM FKIP yang didorong Universitas Pattimura menunjukkan bahwa penguatan kualitas pendidikan guru tidak lagi hanya bergantung pada kemampuan masing-masing institusi, tetapi juga pada kemauan membangun sinergi lintas kampus. Melalui kolaborasi yang lebih terstruktur, pendidikan tinggi diharapkan mampu melahirkan pendidik profesional sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.(BM31)






