Ambon,
| Perjalanan akademik Clarise Franciska Lalineka, mahasiswa penerima KIP Kuliah Universitas Pattimura, mencerminkan keberhasilan mobilitas sosial berbasis pendidikan setelah ia menyelesaikan studi sarjana dalam 3,5 tahun dengan IPK sempurna, di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. Prestasi tersebut sekaligus membuka peluang lanjutan ke jenjang magister melalui dukungan negara.
Clarise memulai perjalanannya dengan tantangan serius. Pada awal perkuliahan, ia dihadapkan pada kewajiban pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar Rp3 juta sebelum pengumuman resmi penerimaan KIP Kuliah dirilis.
“Waktu itu saya sempat menangis karena merasa jumlah tersebut sangat besar, papa hanya seorang buruh namun, orang tua saya tetap mendorong untuk melanjutkan dengan keyakinan bahwa pasti ada jalan,” kata lulusan Fakultas Pertanian, Clarise Franciska Lalineka.
Ketidakpastian tersebut akhirnya terjawab ketika ia dinyatakan lolos sebagai penerima KIP Kuliah. Sejak saat itu, seluruh kebutuhan akademik dan sebagian kebutuhan hidupnya ditopang oleh bantuan pemerintah sebesar Rp5.700.000 per semester.
Dengan dukungan tersebut, Clarise mampu menempuh pendidikan tanpa ketergantungan finansial pada orang tua. Ia tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga aktif dalam kegiatan penelitian dan organisasi. Perannya sebagai Ketua Inkubator Bisnis Mahasiswa menghasilkan capaian konkret berupa pendanaan usaha sebesar Rp50 juta dari program pemerintah.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa program KIP Kuliah tidak sekadar menjadi instrumen bantuan finansial, tetapi juga katalisator pengembangan kapasitas mahasiswa dari kelompok ekonomi bawah.
“Saya tidak pernah membayangkan akan mendapatkan beasiswa ini. Keinginan untuk melanjutkan S2 memang ada, tetapi saya sadar kondisi ekonomi. Untuk S1 saja saya harus berjuang dengan beasiswa,” kata Clarise.
Ia menegaskan bahwa pencapaiannya merupakan kombinasi antara kerja keras, dukungan keluarga, dan akses kebijakan negara yang tepat sasaran.
Secara lebih luas, kisah Clarise mengilustrasikan bagaimana pendidikan tinggi dapat berfungsi sebagai jalur mobilitas sosial vertikal. Program KIP Kuliah menjadi bukti konkret kehadiran negara dalam membuka akses pendidikan, meskipun tantangan implementasi di lapangan masih tetap ada.
Di tengah ketimpangan ekonomi yang masih menjadi persoalan nasional, keberhasilan seperti ini memperkuat argumen bahwa investasi pada pendidikan inklusif memiliki dampak jangka panjang terhadap pembangunan sumber daya manusia.
“Percaya pada diri sendiri, jangan mudah menyerah, dan terus berusaha. Dukungan orang tua dan doa juga sangat penting dalam setiap proses yang kita jalani,” kata Clarise.
Kisah ini tidak hanya menjadi inspirasi, tetapi juga indikator bahwa kebijakan pendidikan berbasis afirmasi dapat menghasilkan output nyata jika didukung oleh komitmen individu dan sistem yang berjalan efektif. (BM31)





