Tual,
| Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon memperkuat digitalisasi pembelajaran di wilayah kepulauan melalui pelatihan media Augmented Reality (AR) bagi 30 guru SMP Negeri 1 Tual pada 23-25 September 2026. Pelatihan ini mengintegrasikan teknologi digital dengan pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) atau pembelajaran responsif budaya, menggunakan unsur budaya Kei seperti perahu Belan, Enbal, dan tradisi Hawear atau Sasi sebagai konteks pembelajaran.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim dosen Unpatti melalui Program Dosen Mengabdi Tahun Anggaran 2026. Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan guru dalam merancang media pembelajaran interaktif yang sesuai dengan kebutuhan siswa sekaligus memanfaatkan lingkungan dan budaya lokal sebagai sumber belajar.
Tantangan geografis menjadi salah satu latar belakang pelaksanaan program. Kota Tual berjarak sekitar 617 kilometer dari Ambon dengan waktu perjalanan laut sekitar 18-20 jam. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam pemerataan akses terhadap pelatihan pedagogi dan pengembangan teknologi pembelajaran bagi guru di wilayah kepulauan.
Pendataan awal tim pengabdian menunjukkan 23 dari 30 guru atau 76,7 persen belum pernah menggunakan AR maupun menerapkan pendekatan pembelajaran responsif budaya. Temuan ini menjadi dasar pelatihan yang tidak hanya memperkenalkan teknologi, tetapi juga mendorong guru menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman dan lingkungan kehidupan peserta didik.
Pada hari pertama, para guru mendapatkan materi mengenai integrasi CRT dan media AR dalam pembelajaran. Materi disampaikan oleh empat narasumber, yakni Prof. Dr. Wilmintjie Mataheru, M.Pd., Dr. Carolina S. Ayal, M.Pd., Dr. Christi Matitaputty, M.Pd., serta mahasiswa Andarias F. Siahay, S.Pd.
Ketua Tim Pengabdian, Christi Matitaputty, menegaskan bahwa teknologi pembelajaran perlu dikembangkan dengan memanfaatkan potensi yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat. Dengan pendekatan tersebut, guru diharapkan tidak sekadar menggunakan teknologi yang tersedia, tetapi mampu menciptakan media pembelajaran secara mandiri berdasarkan konteks budaya siswa.
“Kami ingin guru melihat bahwa teknologi tidak harus datang dari luar. Perahu dan Enbal yang mereka kenal sejak kecil bisa menjadi pintu masuk memahami matematika dan sains. Yang kami tinggalkan adalah kemampuan guru untuk membuatnya sendiri,” kata Christi.
Pelatihan dilanjutkan dengan praktik penyusunan modul ajar, pemindaian kartu marker menggunakan ponsel, serta pengoperasian objek tiga dimensi yang dapat diputar dan diperbesar. Guru juga mengikuti simulasi pembelajaran dan microteaching untuk menguji penggunaan media AR sebelum diterapkan kepada siswa. Objek digital yang dikembangkan dirancang berukuran ringan agar dapat dijalankan melalui ponsel atau laptop yang telah dimiliki guru.
Penerapan budaya lokal terlihat dalam sejumlah rancangan pembelajaran. Ekosistem laut dikaitkan dengan tradisi Hawear atau Sasi, yang berkaitan dengan perlindungan dan pengelolaan sumber daya alam. Sementara itu, model “Enbal suami” digunakan sebagai konteks untuk membantu siswa memahami rumus volume kerucut, sedangkan gerak perahu Belan dimanfaatkan dalam pembelajaran perhitungan nilai rata-rata.
Implementasi Penggunaan Media AR dalam Pembelajaran. Dok: Tim PkM
Guru Matematika SMP Negeri 1 Tual, Sadam Rado menilai media AR memberikan pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan metode penjelasan konvensional menggunakan gambar di papan tulis. Menurutnya, visualisasi objek tiga dimensi membantu siswa mengamati bentuk bangun ruang secara lebih interaktif.
“Selama ini kami menjelaskan bangun ruang lewat gambar di papan tulis. Sekarang anak-anak bisa memutar objeknya sendiri dan itu Enbal suami yang mereka kenal. Kami jadi lebih percaya diri,” ujar Sadam Rado.
Setelah mengikuti rangkaian pelatihan, enam guru dari lima mata pelajaran, yakni IPA, Matematika, Bahasa Inggris, IPS, dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), menerapkan rancangan pembelajaran kepada siswa pada 25 September 2026. Penerapan tersebut menjadi bagian dari praktik penggunaan media AR dalam kegiatan belajar mengajar.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan peserta. Berdasarkan data lengkap dari 28 guru, nilai rata-rata meningkat dari 55,00 pada pretes menjadi 91,25 pada postes. Sebanyak 26 guru mengalami peningkatan nilai, dengan 24 di antaranya mencapai kategori sangat baik. Analisis statistik tim juga menunjukkan peningkatan tersebut signifikan dengan ukuran efek yang besar.
Meski demikian, tim pengabdian mencatat perlunya pendampingan lanjutan agar kemampuan yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan secara konsisten. Selain mendampingi guru yang peningkatan hasil evaluasinya belum optimal, tim mendorong integrasi budaya lokal pada lebih banyak mata pelajaran. Berdasarkan evaluasi rancangan, baru tiga dari enam rancangan pembelajaran yang secara eksplisit mengaitkan materi dengan budaya setempat.
Untuk mendukung keberlanjutan program, tim membagikan perangkat pembelajaran yang dapat digunakan kembali, meliputi kartu marker, objek tiga dimensi, buku panduan, templat modul ajar, dan lembar kerja peserta didik. Guru dan tim juga menyepakati pembentukan komunitas praktik serta kelompok pendampingan daring agar pengembangan media AR tetap berjalan setelah pelatihan selesai.
“Kami berharap program ini bisa ditiru sekolah-sekolah kepulauan lain di Maluku,” tutur Christi.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat FKIP Unpatti menyampaikan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat serta FKIP Universitas Pattimura atas dukungan pendanaan melalui Program Dosen Mengabdi Tahun Anggaran 2026. Pelaksanaan kegiatan tersebut mengacu pada Surat Perintah Kerja Nomor 2715.05.4H/SPK-PJ/UN13-PPBJ/PPU-LPPM/2026.(BM31)







